Budidaya Nanas Badau, Menjaga Warisan Genetik Tanaman Belitong & Mendorong Tata Kelola Lahan

Nanas Badau merupakan nanas lokal Belitung yang memiliki rasa khas, dominan manis dengan tekstur daging buah yang cenderung kering. Kata Badau diambil dari nama daerah asal nanas, yaitu Kecamatan Badau. Pada tahun 2020 Nanas Badau diakui sebagai varietas lokal dengan nama “Nanas Badau Belitong” oleh Pusat Perlindungan Varietas Tanaman (PPVT) Kementan.

Pengakuan ini menegaskan posisi Nanas Badau sebagai satu dari ragam sumberdaya genetik tanaman lokal (plasma nutfah) Provinsi Bangka-Belitung. Badau memang terkenal sebagia sentra perkebunan nanas di Belitung, budaya berkebun Nanas Badau secara tradisional sudah dilakukan turun temurun oleh petani Badau. Namun, banyaknya pilihan profesi lain membuat budidaya kebun nanas kian ditinggalkan.

Untuk melestarikan Nanas Badau sebagai warisan genetik tanaman lokal sekaligus menjaga keanekaragaman hayati dunia, upaya konservasi penting untuk dilakukan. Salah satu upaya konservasi Nanas Badau secara in-situ sekaligus mendorong peningkatan tata kelola lahan datang dari Kelompok Bina Tani Desa Badau. Upaya Budidaya Nanas Badau yang dikelola secara kolektif oleh 25 orang anggota Kelompok Bina Tani didukung dengan Pendanaan Langsung Nusantara Fund.

Kegiatan Budidaya Nanas Badau dilakukan dalam enam tahap kegiatan. Tahap pertama adalah perencanaan dan pemufakatan untuk pengembangan Nanas Badau sebagai tanaman varietas lokal. Tahap ini dilakukan melalui pertemuan anggota kelompok dengan melibatkan para pihak yang dapat berkontribusi dalam implementasi program. Pertemuan ini menghasilkan beberapa kesepakatan dan kesepahaman perencanaan, yakni pembagian tugas, penyusunan rencana kerja, dan jadwal kegiatan pembuatan lahan budidaya Nanas Badau.

Tahap kedua adalah persiapan pra pembukaan lahan yang mencakup penyiapan peralatan, bibit, pupuk dasar dan kebutuhan lainnya.

Pada tahap ini Kelompok Bina Tani bersama Walhi Bangka Belitung memulai mensosialisasikan rencana pembuatan lahan pertanian dengan pemangku kepentingan terkait seperti Penyuluh Pertanian Lapangan, Kelompok–kelompok tani Nanas dan Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian.Selanjutnya, di tahap ketiga adalah pembersihan lahan. Kelompok Bina Tani menggunakan jasa penyewaan ekskavator yang dikelola BumDes.

Aktivitas pembersihan lahan ini berlangsung selama empat hari. Selama proses pembersihan berlangsung anggota kelompok juga melakukan aktivitas gotong royong dalam merapikan lahan dan penyiapan pupuk dasar agar lahan siap ditanam sesuai dengan perencanaan.Tahap keempat adalah pembibitan.

Pembibitan dilakukan dengan metode pengambilan anakan dari indukan yang telah panen. Proses ini dilakukan di beberapa lahan pertanian nanas milik masyarakat di Desa Badau. Sembari menunggu ketersediaan bibit, anggota kelompok melakukan gotong royong menanam sayur di sekeliling lahan pertanian.

Pada tahap kelima dilakukan penanaman dengan metode tugal yakni melubangi tanah dengan tongkat runcing dari kayu dan kemudian bibit tanaman akan dimasukan kedalam lubang. Beberapa kendala dihadapi selama proses kegiatan ini, seperti bibit yang belum tersedia sehingga harus menunggu ketersediaan bibit terlebih dulu. Beberapa bibit tanaman kerdil, layu dan mati.

Selain itu, kerentanan tanaman terhadap serangan hama seperti Tikus, Tupai, Monyet dan Babi Hutan. Oleh karena itu, pada tahap keenam dilakukan perawatan dengan melakukan penyulaman terhadap bibit tanaman yang mati, kerdil, layu dan terserang hama, serta pemantauan terhadap pertumbuhan tanaman. Pemasangan jaring dilakukan untuk mengantisipasi serangan hama.

Berkat kerja sama seluruh anggota, pemangku kepentingan, serta WALHI Bangka Belitung, kini telah tersedia lahan budidaya Nanas Badau seluas 1 Ha. Pengelolaan lahan dilakukan secara kolektif oleh 25 orang anggota Kelompok Bina Tani Desa Badau. Proses yang dilalui bersama juga turut membuka ruang berbagi informasi antar petani di Desa Badau. Proses kolektif ini juga menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat Desa Badau dalam mengelola dan menjaga kearifan lokal sekaligus menjadi upaya mitigasi konflik horizontal antar masyarakat. Semoga inisiatif seperti ini membawa manfaat yang lebih luas dan terus berlanjut.

TENTANG PROGRAM

Program:

Pengembangan Nanas Badau sebagai Tanaman Variatas Lokal Dalam Rangka Mendorong Peningkatan Tata Kelola Lahan

Aktivitas:

Pelatihan dan Pemetaan Tata Guna Lahan

Lokasi:

Desa Badau Kec. Badau Kab. Belitung Prov. Bangka Belitung

Pelaksanaan:

01 s/d 31 Desember 2022

Masyarakat Adat & Komunitas Lokal:

Kelompok Bina Tani Desa badau

Keyword:

Plasma Nutfah; Keanekeragaman Hayati; Babel; Wilayah Kelola Rakyat

Pendanaan Langsung

Rp. 35.000.000,-

Target Jangka Panjang Nusantara Fund:

 Pembangunan model produksi, distribusi dan konsumsi yang berkeadilan dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip MAKL.

Scroll to Top