Pengembangan Ekosistem Ekonomi Nusantara dengan Rumah Pengering Kopi untuk Empat Kelompok Tani di Kaur dan Seluma Bengkulu

Kelompok tani di Kabupaten Kaur dan Kabupaten Seluma, Bengkulu dari empat desa: Desa Air Palawan – Desa Tanjung Aur – Desa Manau IX – Desa Lubuk Resam menjalankan program Pengembangan Ekosistem Ekonomi Nusantara dengan pendampingan dari Walhi Bengkulu. Kegiatan yang dijalankan adalah pembangunan rumah pengering/greenhouse kopi sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas kopi. Kegiatan ini didasarkan hambatan petani dalam pengolahan pasca panen kopi secara tradisional yang sangat tergantung dengan kondisi cuaca. Kopi yang dihasilkan pun menjadi kurang berkualitas. Akibatnya harga jual kopi pun rendah. Padahal potensi buah kopi di empat desa Kaur cukup melimpah.

Selain pembangunan fisik rumah pengering kopi, asistensi untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan kopi juga menjadi perhatian. Dengan ini, petani kopi diharapkan dapat meningkatkan produksi sekaligus menjaga kualitas kopi agar harga jual terdongkrak. Ke depan bahkan sampai bisa menjadi sentra kopi berkualitas.

 

Metode dan proses pelaksanaan pembangunan diawali dengan dengan pertemuan anggota kelompok tani di desa masing-masing untuk menentukan target lokasi, waktu pelaksanaan, dan kebutuhan untuk pembangunan greenhouse kopi. Seluruh proses pembangunan pembangunan rumah pengering kopi di empat desa, dilakukan secara gotong royong oleh masing-masing kelompok tani setiap desa.

 

Untuk ukuran rumah pengeringan kopi, berbeda-beda ukuran dan kapasitas di masing-masing desa. Di Desa Air Palawan dan Desa Manau IX berukuran 5×10 meter dengan kapasitas tampung 1–1,2 ton kopi basah petik merah. Di Desa Lubuk Resam, berukuran 6 x 10 meter dengan kapasitas tampung 1,2 ton. Rumah pengering kopi Desa Tanjung Aur memiliki ukuran paling besar, yakni 5 x 12 meter dengan kapasitas tampung 2 ton.

 

Waktu pengerjaan pembangunan rumah pengering kopi di masing-masing empat desa rata-rata membutuhkan waktu antara 4 hingga 5 hari. Meskipun di tengah kesibukannya masing-masing, seperti di Desa Manau IX yang bertepatan dengan waktu panen. Namun, masyarakat membuat sistem bergantian dalam pengerjaan sehingga mampu menyelesaikan pembangunan tepat waktu.

 

Saat ini rumah pengering kopi ini sudah rutin digunakan dan berhasil meningkatkan kualitas kopi yang dihasilkan.

Scroll to Top