TOTAL DANA 2023 - 2027

$750,000

Re-Granting - General Support - Institutional Support

TOTAL DANA AGUSTUS 2023 - JULI 2024

$250,000

Institutional Support

TOTAL DANA OKTOBER 2024 - SEPTEMBER 2029

$5,000,000

General Support

TOTAL DUKUNGAN DANA $800,000

Agustus 2023 - September 2024 ( $300,000 )
Februari 2025 - Juli 2026 ( $500,000 )

Pendanaan Langsung ( Re-Granting )

TOTAL DUKUNGAN DANA 2023 - 2027

$1,050,000

Re-Granting - General Support

TOTAL DANA 2024 - 2026

$2,500,000

Re-Granting - Endowment
Kelompok Pengelola Lebak (KPL) Menang Raya
Sumber Foto : Kelompok Pengelola Lebak (KPL) Menang Raya
Program

Rehabilitasi Hutan Rawa Gambut Lubuk Segetuk dan Pemaksimalan Potensi Ekonomi Lebak Petai Kecik Oleh Kelompok Pengelola Lebak (KPL) Menang Raya

Organisasi Penanggung Jawab
WALHI
Lokasi
Sumatera Selatan
Pendanaan Langsung
Rp74,225,000
Periode
Mulai
01/12/2024
Berakhir
28/02/2025
Target
3. Rehabilitasi dan restorasi wilayah Masyarakat Adat, Petani, Nelayan, Perempuan, dan Generasi Muda, 4. Model produksi, distribusi, dan konsumsi yang berkeadilan dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip Masyarakat Adat, Petani, Nelayan, Perempuan, dan Generasi Muda
Status
Selesai

Bagikan ke :

Facebook
WhatsApp
X

Lebak Petai Kecik: Harapan Masyarakat Desa Menang Raya Sumatera Selatan di Tengah Ancaman Kebakaran Lahan Gambut

Desa Menang Raya yang berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan memiliki lanskap lahan gambut. Ekosistem gambut di Desa Menang Raya memiliki fungsi sebagai penyangga siklus hidrologi di daerah sekitarnya karena lahan gambut mampu menahan air. Lahan gambut umumnya memiliki struktur penyusun dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang membusuk dan tergenang air. Namun, lahan gambut sangat rentan terhadap kebakaran, terutama saat musim kemarau. Ketika lahan gambut tidak terendam air, kondisi ini menyebabkan kekeringan. Akibatnya, struktur utama dari sisa-sisa tumbuhan menjadi mudah terbakar.

Masyarakat di Desa Menang Raya memiliki suatu kawasan yang mereka sebut sebagai Lebak Petai Kecik yang berfungsi sebagai sumber air yang penting bagi masyarakat, terutama untuk kebutuhan sehari-hari. Lebak Petai Kecik juga merupakan habitat ikan-ikan yang kemudian dijadikan sebagai sumber penghasilan masyarakat. Bagi masyarakat di Desa Menang Raya, lebak petai kecik selain memiliki fungsi ekonomi, juga memiliki fungsi konservasi tepatnya di kawasan rawa yang dipenuhi tanaman purun. Tanaman purun merupakan sejenis semak yang tumbuh liar di daerah lahan basah atau rawa gambut. Tanaman ini berfungsi sebagai pemelihara kondisi asli rawa sehingga fungsi hidrologinya terjaga.

Sayangnya, pada tahun 2010 Lebak Petai Kecik masuk dalam objek lelang lebak lebung yang tertuang dalam Perda Nomor 18 tahun 2010. Hal ini membuat masyarakat tidak dapat mengelola lebak untuk mempertahankan fungsinya. Termasuk tidak dapat beraktivitas menangkap ikan lagi, akibatnya mereka kehilangan salah satu sumber pendapatannya. Pada tahun 2024 masyarakat Desa Menang Raya berhasil mendapatkan kembali lebak petai kecik seluas 66 hektar setelah dikeluarkan dari objek lelang melalui musyawarah desa dan peraturan desa. Hal ini membuat masyarakat dapat memiliki akses kembali untuk menangkap ikan secara leluasa sebagai sumber penghasilan mereka.

Demi memaksimalkan pengelolaannya, masyarakat Desa Menang Raya berinisiatif melakukan pembentukan kelompok untuk menjaga lebak petai kecik. Mereka membentuk tim Karhutla (Kebakaran hutan dan lahan) yang terdiri dari 10 orang untuk mencegah berulangnya kebakaran lahan. Selain membentuk tim, mereka juga berinisiatif melakukan rehabilitasi dan restorasi lahan gambut dengan menanam 2.100 bibit tanaman keras dan buah-buahan seperti jabon, meranti, petai, manggis, jambu air, dan alpukat. Inisiatif lain yang mereka lakukan adalah dengan meningkatkan nilai jual hasil tangkap dari lebak petai kecik. Khususnya dilakukan oleh kelompok perempuan, mereka menambah rantai produksi dengan mengolah ikan hasil tangkapan menjadi produk ikan salai.

Scroll to Top