Program
Hutan Adat Datuk Rangkayo Mulio: Pengelolaan Berkelanjutan untuk Kesejahteraan dan Konservasi
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Hutan Adat Datuk Rangkayo Mulio Jambi Dijaga Bersama, Bangkit Kembali
“Kalau kamu datang kesini bawak rencana menumbang kayu di Hutan Adat, elok kamu balik” Kata Datuk Rangkayo Mulio
Dulu (selama 18 tahun), Hutan Adat Datuk Rangkayo Mulio sunyi, nyaris terlupakan. la berdiri megah, tapi rapuh dan ditinggalkan oleh masyarakat. Tidak ada pos jaga. Tidak ada jejak kaki patroli Sekretariat Lembaga Pengelola Hutan Adat (LPHA) tidak ada. Warga sekitar berjalan melewatinya tiap hari, namun sedikit yang merasa bertanggung jawab. Air bersih, yang mengalir dari sungai Batang Pelepat sangat tidak layak, keruh tidak lagi dapat dipergunakan. Generasi mudanya lebih mengenal layar ponsel dari pada akar pepohonan.
Namun semua itu berubah. Perlahan, tapi pasti, Hutan Adat Kami, mulai bangkit kembali. Dibangunlah sebuah pos jaga, berdiri kokoh di perbatasan Hutan Adat dan kawasan kebun sawit perusahaan. Lebih dari sekadar bangunan, ia menjadi simbol perlawanan terhadap kehancuran. Pos itu kini menjadi tempat berkumpul para penjaga hutan, relawan muda, dan warga yang ingin ikut serta menjaga warisan leluhur mereka. Serta dapat di fungsikan menjadi tempat bermalam bagi ilmuwan yang akan meneliti Hutan Adat kami.
(laporan oleh LPHA Datuk Rangkayo Mulio)
Hutan Adat Rangkayo Mulio seluas 821 hektar yang berada di Kabupaten Bungo, Jambi menjadi salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat adat setempat. Lembaga Pengelola Hutan Adat membuat pengelolaan Hutan Adat Rangkayo Mulio menjadi lebih baik. Melalui Peraturan Desa, pengelolaan Hutan Adat Rangkayo Mulio dibagi menjadi dua fungsi. Pertama sebagai fungsi adat yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Dusun Baru Pelepat. Kedua sebagai fungsi lindung yang bertujuan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam, termasuk menjaga kelangsungan hidup flora dan fauna, mencegah erosi, sebagai resapan air dan mencegah penghancuran kawasan hutan.
Hutan adat ini kaya akan keanekaragaman hayati termasuk pohon yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti jelutung, gaharu, tembesu, dan fauna kunci seperti tapir, burung kuau (burung endemik), primata seperti siamang, ungko (owa), serta monyet ekor panjang. Potensi lain yang dimiliki Hutan Adat Datuk Rangkayo Mulio adalah sebagai hulu bagi sungai-sungai kecil yang bermuara ke sungai pelepat. Beberapa anak Sungai Pelepat tersebut: Sungai Sungsang, Sungai Meliau, Sungai Deras, Sungai Tamalun, Sungai Sikotan, Sungai Sagu, Sungai Keruh dan Sungai Cupang Duo. Semua air sungai ini dimanfaatkan sebagai sumber air bersih bagi masyarakat di 10 kampung 3 diantaranya adalah Kampung Padukuh, Sungai Lebong, dan Semantung. Serta 7 kampung lainnya berada di Desa Baru Pelepat. Selain layak sebagai sumber air bersih juga dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan perikanan.
Namun, pengelolaan lahan di hulu dalam bentuk aktivitas tambang ilegal dan alih fungsi lahan untuk kebun sawit yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab memberi dampak buruk terhadap kualitas lingkungan. Mengakibatkan kualitas air sungai menurun, keruh, menurunkan populasi ikan meningkatkan resiko penyakit, dan menanam biaya masyarakat untuk mendapatkan akses air bersih untuk konsumsi. Persoalan tersebut menunjukkan perlunya perbaikan dalam pengelolaan kawasan hutan adat. Dengan tetap mempertahankan fungsinya tanpa merusak.
Menyadari persoalan tersebut, masyarakat bersama LPHA berinisiatif melakukan perbaikan sarana penampungan air yang sudah ada sebagai peningkatan layanan akses air bersih untuk anggota masyarakat yang berlokasi di Kampung Sungai Lebong. Mereka memperbaiki dam penampung air dan penambahan tiga unit bak penyaring air. Selain itu, mereka juga berinisiatif untuk meningkatkan pengelolaan dan pengawasan hutan adat. Salah satunya adalah dengan membangun pos patroli dan kegiatan patroli rutin. Ini untuk meningkatkan aktivitas pengamanan Hutan Adat Datuk Rangkayo Mulio dari ancaman penyerobotan, mengingat wilayahnya berbatasan dengan area perusahaan kebun sawit skala besar.
Patroli tak lagi menjadi hal langka. Setiap saat, kelompok kecil berjalan menyusuri batas-batas hutan, mencatat, mengawasi, menjaga. Ada rasa aman yang tumbuh, tidak hanya bagi hutan, tapi juga bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada keseimbangannya. Melalui ketersediaan air bersih bagi keluarga-keluarga akan kebutuhan air rumah tangga.
Air bersih kini mengalir lebih banyak bagi Kampung Sungai Lebong dari 3 kampung yang mendapat pasokan air bersih dari Hutan Adat. Bak penampung air besar dibangun, menyalurkan kehidupan ke kampung Sungai Lebong. Dulu air datang lambat dan sedikit, sekarang warga tak perlu lagi menunggu lama. Mereka tahu: ini bukan keajaiban, tapi hasil dari kesadaran kolektif yang tumbuh.