
Cerita Tentang Roa, Pengelolaan Laut di Wayabula
Di pesisir Desa Wayabula, Kabupaten Pulau Morotai, laut adalah sumber hidup. Ikan julung-julung yang diolah menjadi ikan roa bukan hanya untuk dijual, tetapi menjadi penopang ekonomi keluarga dan kampung.
Belakangan ini, nelayan kecil menghadapi hasil tangkapan yang menurun, biaya melaut yang tinggi, serta cuaca dan kondisi lingkungan yang tidak menentu. Penetapan kawasan konservasi dan masuknya kepentingan besar di ruang laut juga membuat ruang tangkap semakin terbatas. Dampaknya terasa langsung pada pendapatan rumah tangga.
Perempuan kemudian mengambil peran penting. Mereka mengolah ikan roa secara tradisional—mengasapi semalaman, menyiapkan bambu, hingga memasarkan hasilnya. Bersama Perkumpulan Pakativa, kelompok perempuan Putri Lolaro dan Forimoi memperkuat usaha yang sudah ada, mengembangkan produk seperti abon dan sambal roa, serta mengurus legalitas usaha agar lebih berdaya dan berkelanjutan.
Upaya ini tidak hanya soal menambah penghasilan, tetapi juga menjaga wilayah kelola kampung—hutan bambu, mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang menjadi satu kesatuan sumber kehidupan. Di Wayabula, ikan roa adalah cerita tentang kerja bersama, ketahanan ekonomi, dan hubungan yang saling menjaga antara manusia dan alam.






