TOTAL DANA 2023 - 2027

$750,000

Re-Granting - General Support - Institutional Support

TOTAL DANA AGUSTUS 2023 - JULI 2024

$250,000

Institutional Support

TOTAL DANA OKTOBER 2024 - SEPTEMBER 2029

$5,000,000

General Support

TOTAL DUKUNGAN DANA $800,000

Agustus 2023 - September 2024 ( $300,000 )
Februari 2025 - Juli 2026 ( $500,000 )

Pendanaan Langsung ( Re-Granting )

TOTAL DUKUNGAN DANA 2023 - 2027

$1,050,000

Re-Granting - General Support

TOTAL DANA 2024 - 2026

$2,500,000

Re-Granting - Endowment
NF25_INF_DATA_KOM_S3073W1_ATM_EKONOMI-01
Sumber Foto : Aliansi Tani Mandiri (ATM)
Program

Peningkatan Nilai Ekonomi Produk Wilayah Kelola Rakyat Porang

Organisasi Penanggung Jawab
WALHI
Lokasi
Nusa Tenggara Timur
Pendanaan Langsung
Rp99,800,000
Periode
Mulai
01/12/2024
Berakhir
30/03/2025
Target
4. Model produksi, distribusi, dan konsumsi yang berkeadilan dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip Masyarakat Adat, Petani, Nelayan, Perempuan, dan Generasi Muda
Status
Selesai

Bagikan ke :

Facebook
WhatsApp
X

Perempuan Petani Kopi Desa Batu Ampar Perluas Kopi Tangguh Iklim di Bengkulu

Kopi yang diproduksi di Rejang Lebong dan Kepahiang termasuk dalam kopi unggulan di Indonesia. Koalisi Perempuan Petani Kopi Sakti (Koppi Sakti) Desa Batu Ampar beranggotakan 58 orang perempuan petani kopi telah lama berkiprah dalam mengupayakan pertanian kopi organik dan tangguh iklim dengan didampingi oleh LIVE Bengkulu dan WALHI Bengkulu. Mereka telah memiliki kajian tentang dampak perubahan iklim pada pertanian kopi di Rejang Lebong yang dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil panen, dan meningkatnya biaya perawatan kebun. Dampak lainnya terhadap perempuan petani kopi antara lain: memperberat beban dalam merawat kebun, memanen serta mengolah hasil panen, memperberat beban dalam mengelola keuangan rumah tangga, memperbesar kerentanan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, memperbesar potensi mengalami stres dan depresi; dan mengakibatkan tradisi ganti hari dalam merawat kebun dan memanen kopi, menyemang kopi, dan ngendang kopi rentan menghilang. Tradisi menyemang kopi misalnya merupakan kearifan lokal yang melihat bahwa lansia yang memungut biji kopi yang jatuh dan juga hewan (seperti tupai) yang disebut kecipyang memakan biji kopi adalah kesempatan mereka berbagi pangan. Hanya biji kopi yang merah dan ranum, dagingnya tebal, lendirnya banyak dan manis, buah tunggal, dan mudah lepas dari tangkai yang diminati hewan, sehingga ketika dilepeh bijinya oleh hewan akan mereka pungut dan jemur jauh dari kandang ternak dan jalan raya untuk memastikan biji kopi tersebut mengalami proses natural yang bersih, dan bernilai tinggi. Mereka perlu lebih mempromosikan lagi dalam bentuk usaha bersama untuk mendapatkan harga jual yang lebih tinggi  dan juga meningkatkan produksi dan kualitas biji kopi petik merah organik.

Mereka menilai bahwa perempuan petani kopi harus mengambil peran untuk merevitalisasi berbagai kearifan/praktik lokal dalam membangun kebun kopi tangguh iklim. Cara yang dapat dilakukan dengan menerapkan pola polikultur (menanam beragam tanaman di kebun kopi seperti pohon penghasil buah, sayur dan rempah), menggunakan cara manual dalam mengendalikan rerumputan, tidak membakar, melainkan memanfaatkan sampah organik (rerumputan, daun dan ranting pohon kopi dan pohon lainnya) untuk mulsa organik dan pupuk organik, memanfaatkan pestisida nabati, dan membuat lubang angin (mini rorak) serta tempat penampungan air hujan.

Inisiatif program ini mendapatkan dukungan dari Dana Nusantara untuk menguatkan kapasitas agar perempuan petani kopi di 3 desa lainnya selain Desa Batu Ampar yaitu di Tebat Tenong Luar, Mojorejo, dan Pungguk Meranti, dapat membangun kebun kopi tangguh iklim, merintis pusat usaha untuk menjual kopi semang kecip dan petik merah (kemasan dan seduh) dan beragam pangan (segar dan olahan), dan merintis pusat pendidikan tentang pengolahan kopi semang kecip dan petik merah, dan berbagai kearifan/praktik lokal yang selaras dengan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di kebun kopi tangguh iklim.

Program berdampak signifikan bagi keberlanjutan usaha kopi bersama dari 4 desa yang berhasil dirintis. Yang paling nyata adanya dukungan tambahan pendanaan lain dari lembaga internasional untuk menjalankan inisiatif ini bagi 60 perempuan. Juga secara organisasi, program ini berhasil menata ulang kelompok perempuan petani kopi untuk dapat mengelola usaha bersama dengan keanggotaan mencapai 196 orang. Program berdampak setidaknya bagi 541 petani kopi di Kepahiang dan Rejang Lebong yang mulai beralih ke pupuk organik di total lahan seluas 231,55 hektare. Program ini berhasil meningkatkan kapasitas kelompok perempuan petani kopi di 3 desa untuk membuat mulsa organik, pupuk organik, EM4 dan membuat pestisida organik, dan menanam polikultur berupa jahe, terong, dan sekaligus penyiapan pembibitannya sebanyak 840 bibit cabai dan 4 kilogram bibit jahe yang ditanam di kebun kopi di empat desa, juga untuk melakukan teknik proses kopi petik merah secara natural, full wash, semi wash, honey, membuat brand, dan produksi kopi bubuk petik merah secara bersama, dan dukungan pemerintah desa hingga kabupaten pada keberlanjutan dan promosi dari produk usaha bersama yang organik. Produksi kopi petik merah mereka makin berkualitas dari kebun kopi tangguh iklimnya dengan perkiraan penambahan produksi mencapai hampir 2 kali lipat per hektare karena lebih sehat tanpa pupuk kimia, diproduksi khusus tidak dicampur dengan kopi asal-asalan seperti sebelumnya, dikemas lebih baik, dan juga ongkos produksi untuk pupuk bisa menghemat jutaan rupiah.

“Tidak sedikit petani kopi mulai tertarik untuk beralih ke pupuk organik saat mengetahui bahwa pupuk organik bisa dibuat di kebun kopi, dan pembuatannya relatif mudah dan murah,” kata Mercy Fitry Yana, Pengurus Koppi Sakti Desa Tebat Tenong Luar.

Dengan berbagai tantangan terutama di fluktuasi harga pasar, Koppi Sakti di 4 desa berhasil membangun pusat usaha dan pendidikan kopi tangguh iklim dari merevitalisasi praktik dan kearifan lokal mereka sendiri di Bengkulu.

“Selama ini kami, secara perorangan, hanya menjual biji kopi asalan. Sekarang, kami merintis usaha bersama, usaha bubuk kopi petik merah dari Kebun Kopi Tangguh Iklim. Ini menjadi harapan baru bagi kami,” kata Nurlela Wati, Ketua Koppi Sakti Desa Tebat Tenong Luar.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Koppi Sakti Desa Pungguk Meranti, Ema Susana. Dia berharap usaha bersama yang dirintis Koppi Sakti berbasis Kebun Kopi Tangguh Iklim bisa menjadi motivasi bahwa upaya bersama perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim juga memperbesar kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Scroll to Top