
Program
Mendorong Kaum Muda Dalam Pengembangan Pertanian Yang Berdaulat dan Berkelanjutan
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Margahurip Young Farmer Bandung Perkuat Pengetahuan Pertanian Permakultur
Kawasan pertanian di Desa Margahurip Kabupaten Bandung, dengan 200 petani dengan lahan yang terbatas sejumlah 50 Ha, khususnya di Dusun Astaraja sangat bergantung pada musim penghujan, meskipun desa Margahurip terlewati oleh aliran sungai namun tidak menjadikan kawasan ini bisa terus mendapatkan suplai air. Situasi ini diduga terjadi karena sistem irigasi yang kurang maksimal. Sering terjadi perebutan air antar petani. Permasalahan lain yang dihadapi di sektor pertanian adalah regenerasi petani. Predikat petani dipandang sebagai pekerjaan yang tidak keren karena Desa Margahurip dekat dengan industri dan kawasan perumahan di perkotaan. Padahal hasil pertanian merupakan sumber kehidupan utama bagi manusia.
Situasi lain yang dihadapi petani di Dusun Astaraja dan Desa Margahurip umumnya, petani sangat tergantung pada bandar. Ketergantungan ini terjadi saat produksi dan pasca produksi. Pada saat produksi banyak petani yang kesulitan mendapatkan pupuk kimia. Meskipun pemerintah memberikan bantuan pupuk bagi petani kecil namun faktanya tidak semua petani bisa mengakses pupuk bersubsidi karena sudah dibeli duluan oleh petani dan bandar besar. Untuk mempermudah mendapatkan pupuk, petani harus berafiliasi dengan bandar-bandar. Dalam masa pasca panen, petani hanya menjual hasil panennya ke Bandar dengan harga yang sudah ditentukan oleh Bandar. Tidak jarang petani tidak mendapatkan keuntungan dari usaha pertanian yang mereka lakukan.
Harapan baru muncul dari 10 pemuda dan 7 pemudi yang merupakan anak petani di Desa Margahurip yang tidak berharap lahan-lahan pertanian ini akan berubah menjadi komplek-komplek perumahan atau industri. Sekelompok pemuda ini berkomitmen untuk menjaga lahan pertaniannya. Mereka menggagas pendidikan pertanian permakultur (pertanian selaras alam) untuk mengatasi persoalan petani yang utama soal ketergantungan pada bandar, meningkatkan kapasitas untuk memetakan kondisi lingkungan khususnya tentang daya dukung air, memahami pembuatan pupuk organik dan praktek langsung pertanian permakultur di demplot yang disiapkan seluas setengah hektare di Dusun Astaraja dan juga Dusun Alisenda. Kegiatan mereka lakukan didampingi oleh Pusat Sumber Daya Komunitas dan DAS Citarum (anggota WALHI Jawa Barat) terutama dalam hal pengembangan materi pendidikannya.
Dengan dukungan Dana Nusantara, mereka berhasil secara bertahap meningkatkan pemahaman tentang produksi pertanian permakultur, walaupun baru sebatas di penerapan pupuk organik bagi 200 petani di Margahurip. Khusus tentang Dusun Alisenda, Ketua RW dan juga pemerintah desa juga melakukan perlindungan mata air hasil dari pemetaan partisipatif, pengetahuan dari para petani muda ini juga meningkat terkait bagaimana model pertanian berkelanjutan dari praktek di demplot pertanian khususnya di lokasi Dusun Alisenda. Walaupun masih menjadi tantangan terkait persoalan ketertarikan petani untuk menerapkan sepenuhnya permakultur di lahan pertanian dan masih kurangnya petani muda yang mau terlibat karena peluang kerja di industri. Praktik yang masih berlanjut saat ini petani Margahurip mereplikasi pertanian permakultur di kebun pekarangan dan kebun contoh seluas 6 tumbak atau sekitar 84 meter persegi. Solidaritas di antara petani Margahurip juga meningkat untuk terus bersama memantau hasil-hasil dari pertanian permakultur di kebun pekarangan mereka sendiri melalui kegiatan sosial warga.




