TOTAL DANA 2023 - 2027

$750,000

Re-Granting - General Support - Institutional Support

TOTAL DANA AGUSTUS 2023 - JULI 2024

$250,000

Institutional Support

TOTAL DANA OKTOBER 2024 - SEPTEMBER 2029

$5,000,000

General Support

TOTAL DUKUNGAN DANA $800,000

Agustus 2023 - September 2024 ( $300,000 )
Februari 2025 - Juli 2026 ( $500,000 )

Pendanaan Langsung ( Re-Granting )

TOTAL DUKUNGAN DANA 2023 - 2027

$1,050,000

Re-Granting - General Support

TOTAL DANA 2024 - 2026

$2,500,000

Re-Granting - Endowment
S2K1029 [Kelompok Tani Sewu Bewa Kelompok Tani Ripi Walo]
Program

Penguatan Kapasitas Penguasaan Lahan melalui Pengembangan Usaha Pertanian Berkelanjutan

Organisasi Penanggung Jawab
KPA
Lokasi
Sikka, Nusa Tenggara Timur
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
04/05/2024
Berakhir
30/10/2024
Target
4. Model produksi, distribusi, dan konsumsi yang berkeadilan dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip Masyarakat Adat, Petani, Nelayan, Perempuan, dan Generasi Muda
Status
Selesai

Bagikan ke :

Facebook
WhatsApp
X

Menghadang Tambang Emas dengan Pertanian Berkelanjutan

Kelompok Tani Sewu Bewa dan Ripi Walo adalah dua kelompok tani di Kampung Detukopi, Desa Liakutu, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Masing-masing kelompok beranggotakan 17 orang petani. Sebagai petani lahan kering, mereka mengandalkan tanaman pangan seperti padi dan jagung, serta komoditas seperti kemiri, kakao, dan kopi.

Namun, sejak 2003, ancaman serius datang dari rencana penambangan emas. Meski deposit emas yang diincar masih “emas muda” dan diperkirakan baru bisa dikeruk dalam 20 hingga 30 tahun ke depan, kekhawatiran akan nasib buruk sudah merebak. Mereka sadar, bahwa harus bersiap dari sekarang, karena kehadiran tambang emas akan menghancurkan ekosistem, merusak kesuburan tanah, dan mengancam keberlanjutan mata pencaharian masyarakat. Selain tekanan dari rencana tambang emas, penurunan produktivitas lahan juga jadi kekhawatiran. Demi melindungi tanah, serta mengatasi penurunan produktivitas lahan, komunitas ini memilih beralih ke pertanian berkelanjutan sebagai strategi mitigasi.

Sejak awal berdiri, Kelompok Tani Sewu Bewa dan Ripi Walo belum pernah mendapatkan pendampingan yang memadai, baik dalam hal teknik budidaya pertanian maupun pengelolaan dan manajemen usaha tani. Bantuan yang datang sebatas pemberian benih atau bibit, tanpa disertai pelatihan atau pendampingan. Akibatnya, pengetahuan dan keterampilan anggota kelompok terkait pengelolaan usaha dan teknik budidaya pertanian masih sangat minim. Situasi mulai berubah dengan dukungan dari Pendanaan Langsung Nusantara Fund.  Kelompok Tani Sewu Bewa dan Ripi Walo memulai perjalanan baru menuju pertanian berkelanjutan, dengan pendampingan dari organisasi Wahana Tani Mandiri (WTM).

Diawali dengan pelatihan manajemen kelompok usaha tani agar lebih produktif berkelanjutan serta sosialisasi tentang pentingnya perlindungan ekosistem dalam pertanian. Kemudian dilanjutkan dengan pelatihan teknik budidaya mencakup: pembuatan pupuk dan pestisida organik, praktik konservasi dan pengelolaan lahan, pengendalian hama penyakit, dan pembibitan tanaman. Selain itu, mereka juga membangun rumah pembibitan, sejumlah bibit/benih (pala, kacang merah, wortel) serta alat dan bahan pembuatan pupuk dan pestisida organik juga didistribusikan untuk anggota kelompok.

Pelatihan dan pendampingan yang diterima memberikan pengetahuan baru dan turut mendorong perubahan pola pikir bagi para petani untuk mengembangkan usaha tani berkelanjutan. Dari sisi organisasi, kelompok Ripi Walo dan Sewu Bewa kini memahami manajemen kelompok dengan lebih baik. Mereka juga mendapat kesempatan berbagi pengalaman sekaligus belajar dari kelompok tani lain yang telah lebih dulu sukses dalam pengelolaan organisasi maupun usaha tani mereka, yakni kelompok tani Sinar Tani, Desa Bhera.

Berbekal pengetahuan dari pelatihan, para petani Kampung Detukopi mulai meninggalkan penggunaan bahan kimia, beralih menggunakan pupuk dan pestisida organik yang mereka produksi sendiri dalam kelompok. Biasanya, pada masa persiapan lahan dan tanam, petani Detukopi membeli pupuk dan pestisida dari Maumere. Namun, kini mereka memanfaatkan bahan-bahan organik yang tersedia di sekitar kebun untuk membuat pupuk sendiri, termasuk pupuk organik cair hasil produksi bersama dalam kelompok. Bahkan, sebagian petani sudah mampu membuat pupuk organik cair secara mandiri di rumah.

Semangat perubahan ini juga mendorong petani Detukopi untuk menerapkan praktik konservasi, seperti pembuatan terasering di lahan miring guna menjaga kesuburan tanah. Selain itu, mereka mulai melakukan pembibitan secara mandiri untuk mendukung keberlanjutan usaha tani mereka. Selain tanaman pertanian, setiap anggota juga berkomitmen untuk membibitkan setidaknya 5 bibit untuk ditanam di sekitar mata air: yakni beringin dan ara. 

Saat ini, sebanyak 34 anggota Kelompok Tani Sewu Bewa dan Ripi Walo telah mulai menerapkan teknik pertanian berkelanjutan di lahan seluas 1 hektar yang dikelola bersama sebagai sumber ekonomi kolektif. Mereka pun bersepakat membentuk kelompok petani muda Desa Liakutu. Lebih dari sekadar bertani, mereka tengah membangun sebuah sistem yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga sebagai benteng pertahanan sebelum tambang emas merangsek masuk desa.

Scroll to Top