TOTAL DANA 2023 - 2027

$750,000

Re-Granting - General Support - Institutional Support

TOTAL DANA AGUSTUS 2023 - JULI 2024

$250,000

Institutional Support

TOTAL DANA OKTOBER 2024 - SEPTEMBER 2029

$5,000,000

General Support

TOTAL DUKUNGAN DANA $800,000

Agustus 2023 - September 2024 ( $300,000 )
Februari 2025 - Juli 2026 ( $500,000 )

Pendanaan Langsung ( Re-Granting )

TOTAL DUKUNGAN DANA 2023 - 2027

$1,050,000

Re-Granting - General Support

TOTAL DANA 2024 - 2026

$2,500,000

Re-Granting - Endowment
Komunitas Adat Depati Rencong Telang
Sumber Foto : Komunitas Adat Depati Rencong Telang
Program

Budidaya Cabe Rawit

Organisasi Penanggung Jawab
AMAN
Lokasi
Jambi
Pendanaan Langsung
Rp 50,000,000
Periode
Mulai
01/12/2024
Berakhir
31/12/2024
Target
4. Model produksi, distribusi, dan konsumsi yang berkeadilan dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip Masyarakat Adat, Petani, Nelayan, Perempuan, dan Generasi Muda
Status
Selesai

Bagikan ke :

Facebook
WhatsApp
X

Pedas Rasanya Manis Hasilnya.

Cabe Rawit Organik dari Komunitas Masyarakat Adat Depati Rencong Telang, Jambi

Di tengah lanskap pegunungan yang dikelilingi hutan lebat, Masyarakat Adat Rencong Telang berupaya mengembangkan kembali kekuatan mereka. Selama ini, warga mengandalkan hasil bumi seperti kopi, kayu manis, dan buah-buahan. Namun akses terbatas ke pasar dan peluang ekonomi yang sempit mendorong mereka merintis jalur baru melalui cabai rawit organik yang memiliki nilai pasar tinggi. Budidaya cabai rawit organik ini juga merupakan upaya untuk memperkuat ekonomi kolektif Masyarakat Adat melalui pengelolaan wilayah adat yang berkelanjutan.

Komunitas Masyarakat Adat Depati Rencong Telang menempati wilayah geografis yang unik, terletak di jantung Alam Kerinci, kawasan pegunungan yang menjadi bagian dari bentang alam Bukit Barisan. Topografi yang bergelombang dan berbukit menjadikan kawasan ini secara historis sulit dijangkau, sekaligus melestarikan ekosistem hutan hujan tropis yang lebat dan kaya biodiversitas.

Praktik budidaya tumpang sari cabai rawit secara organik dapat menjaga keseimbangan alam. Tanpa membuka lahan baru dan dengan tetap menjaga keragaman tanaman, tekanan terhadap hutan adat dapat terhindar. Penggunaan bahan alami juga menjaga kualitas tanah dan air, memastikan wilayah adat sebagai ruang hidup yang utuh dimana kegiatan ekonomi berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan.

Dalam upaya ini, Kelompok Usaha Masyarakat Adat – KUMA Mentari Rencong Telang menjadi penggerak. Kegiatan dimulai dengan musyawarah adat bersama para pemangku dan tokoh adat, dilanjutkan dengan sosialisasi inisiatif kepada masyarakat. Dalam sosialisasi juga tercapai kesepakatan tentang lokasi tanam, penyusunan jadwal kerja, pembentukan tim teknis, dan pelaksanaan pelatihan budidaya.

Pelatihan budidaya cabai organik diikuti oleh dua puluh orang anggota komunitas, dan berlangsung dengan dukungan dari fasilitator pertanian setempat dan jejaring organisasi Masyarakat Adat. Peserta pelatihan budidaya kemudian menjadi sebagai tenaga harian dalam kegiatan pengolahan lahan, penanaman, dan perawatan. Upah diberikan harian, membuka sumber pendapatan baru di luar sektor pertanian tradisional. Keterlibatan ini memperluas manfaat hingga ke lapisan masyarakat yang lebih luas, termasuk kelompok yang sebelumnya tidak tergabung dalam KUMA.

Lahan kolektif seluas 1,5 hektar diolah untuk menanam cabai rawit, tumpang sari dengan tanaman kopi dan kayu manis yang sudah lebih dulu tumbuh. Pupuk kandang, kompos, hormon alami, dan obat-obatan organik menjadi dasar sistem budidaya ramah lingkungan yang diterapkan.

Selama pelaksanaan, berbagai tantangan muncul. Sebagian anggota belum terbiasa dengan teknik budidaya cabai dalam skala besar, dan kondisi cuaca tidak selalu mendukung pertumbuhan cabai. Untuk mengatasinya, pelatihan tambahan diadakan, peralatan ditingkatkan, dan diskusi rutin terus dijalankan untuk bersama-sama menyelesaikan kendala dalam budidaya.

Panen perdana pada Jun i2025, sebesar 100 kilogram cabai rawit per dua minggu. Harga dari petani ke pengepul berkisar Rp9.000 per kilogram, sementara harga pasar dapat mencapai diatas Rp40.000. Walau ada selisih besar antara harga dari petani dengan harga jual ke pembeli, tetapi dari harga jual itu pun para petani masih mendapatkan keuntungan kolektif dari hasil panen. Sebagian hasil akan diserap oleh pasar lokal, dan sebagian lainnya didistribusikan ke daerah seperti Muara Bungo, Jambi, dan Padang melalui jaringan pengepul. Hasil panen cabe rawit organik kelak digunakan sebagai modal bergulir untuk musim tanam berikutnya, menciptakan mekanisme keberlanjutan usaha yang dikendalikan sendiri oleh komunitas.

Inisiatif Komunitas Masyarakat Adat Depati Rencong Telang dalam KUMA Rencong Telang tidak hanya membangun kapasitas teknis budidaya ramah lingkungan, tetapi juga memperkuat solidaritas. Warga yang sebelumnya hanya melakukan pertanian subsisten untuk pemenuhan dapur rumah tangga, sekarang ambil peran dalam sistem produksi kolektif yang lebih terorganisir. Kelompok lain seperti petani bambu dan masyarakat ladang juga ikut ambil bagian, memperkuat ekosistem ekonomi lokal.

Model ekonomi kolektif memperlihatkan bagaimana inisiatif dari Masyarakat Adat dapat memperluas dampaknya dengan memaksimalkan pengelolaan kolektif atas sumber daya dan manfaatnya pun kembali tak untuk segelintir orang, tapi untuk bersama. Di Rencong Telang, budidaya cabai rawit organik tumbuh dari tanah adat, dikelola bersama, dan menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat ekonomi kolektif Masyarakat Adat dan terus menjaga hubungan yang selaras dengan alam.

Scroll to Top