TOTAL DANA 2025 - 2027

$500,000

Re-Granting - General Support

TOTAL DANA AGUSTUS 2023 - JULI 2024

$250,000

Institutional Support

TOTAL DANA OKTOBER 2024 - SEPTEMBER 2029

$5,000,000

General Support

TOTAL DUKUNGAN DANA $800,000

Agustus 2023 - September 2024 ( $300,000 )
Februari 2025 - Juli 2026 ( $500,000 )

Pendanaan Langsung ( Re-Granting )

TOTAL DUKUNGAN DANA 2023 - 2027

$1,050,000

Re-Granting - General Support

TOTAL DANA 2024 - 2026

$2,500,000

Re-Granting - Endowment
[S2A011 Komunitas Masyarakat Adat Klisi]_Persiapan lahan_01
Program

Restorasi Hutan Adat dan Pembangunan Rumah Baca

Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Jayapura, Papua
Pendanaan Langsung
Rp100,000,000
Periode
Mulai
10/05/2024
Berakhir
31/10/2024
Target
Rehabilitasi dan restorasi terhadap 3,5 juta hektar Wilayah Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal, Pusat Pendidikan Rakyat
Status
Selesai

Bagikan ke :

Facebook
WhatsApp
X

Hutan, Rumah, dan Harapan – Kisah Pemuda dan Masyarakat Adat Klisi Kampung Bring di Papua

Bayangkan kamu tinggal di sebuah kampung kecil di tengah hutan Papua. Setiap hari, kamu bisa melihat pohon-pohon tinggi menjulang, mendengar suara burung, dan merasakan sejuknya udara alami. Bagi Masyarakat Adat Syuglue Woi Yansu di Kampung Bring, ini bukan sekadar pemandangan—ini adalah rumah, sumber hidup, dan warisan leluhur. Masyarakat Adat di Kampung Bring ini hidup bersama 10 kampung lainnya di Lembah Grime Jayapura yang merupakan wilayah adat Suku Klisi. 

Namun, semua berubah. Hutan yang selama ini menjadi tumpuan hidup mulai rusak. Aktivitas perusahaan kayu, perubahan iklim, dan serangan hama membuat lahan tak lagi produktif. Kakao, yang dulu jadi kebanggaan kampung, kini tinggal cerita. Banyak warga kehilangan pekerjaan, sebagian jadi buruh, sebagian lainnya menganggur.  Masyarakat Adat juga mengalami ancaman ekspansi perusahaan kayu yang mengeksploitasi hasil hutan.

Di tengah situasi itu, muncul secercah harapan. Anak-anak muda kampung membentuk Komunitas Pemuda Adat Imoge Ku—sebuah wadah kaum muda, perempuan dan laki-laki, yang peduli pada hutan, lingkungan, dan masa depan kampung. Mereka nggak sendiri.

Bersama mereka, hadir juga Komunitas Masyarakat Adat Klisi, yang terdiri dari orang-orang tua, perempuan adat, dan tokoh masyarakat dari kampung. Komunitas ini jadi mitra penting dalam memastikan bahwa semua proses dilakukan berdasarkan nilai adat, musyawarah, dan kesepakatan bersama. Dengan kekuatan dua komunitas ini, masyarakat Kampung Bring meluncurkan dua inisiatif utama yaitu restorasi hutan adat dan pembangunan rumah baca.

Restorasi dimulai dengan menentukan lahan yang rusak—sekitar 5.000 hektar, bekas area aktivitas perusahaan. Bersama, pemuda dan Masyarakat Adat menanam: 500 pohon kayu besi, 500 pohon matoa, 500 bibit kopi robusta, 500 tunas pohon sagu. Jenis-jenis tanaman ini dipilih karena bermanfaat bagi lingkungan dan punya nilai ekonomi untuk masyarakat. Ini bukan sekadar menanam pohon, tapi juga tentang menghidupkan kembali hubungan antara manusia dan alam.

Selain hutan, mereka juga bangun satu ruang penting: rumah baca. Di tempat ini, anak-anak bisa membaca buku, belajar sejarah adat, mengenal lingkungan, dan menumbuhkan mimpi besar untuk masa depan kampung. Pembangunan rumah baca dilakukan dengan prinsip gotong royong. Komunitas Klisi ikut menyusun rencana, mengatur anggaran, menentukan lokasi, hingga menyediakan tukang. Semua dilibatkan, semua merasa memiliki.

Kini, baik Komunitas Pemuda Imoge Ku maupun Masyarakat Adat Klisi menyadari bahwa perjuangan menjaga hutan dan tanah adat harus dilakukan bersama. Mereka belajar saling menguatkan, saling melengkapi.

Cerita ini bukan cuma milik satu kampung di Papua. Ini gambaran bahwa kekuatan perubahan bisa dimulai langsung dari akar rumput. Bahwa ketika kaum muda dan masyarakat adat bersatu, hutan bisa dijaga, tanah bisa dipulihkan, dan mimpi bisa ditanam kembali.

Scroll to Top