![[S2A011 Komunitas Masyarakat Adat Klisi]_Persiapan lahan_01 [S2A011 Komunitas Masyarakat Adat Klisi]_Persiapan lahan_01](https://nusantarafund.org/wp-content/uploads/elementor/thumbs/S2A011-Komunitas-Masyarakat-Adat-Klisi_Persiapan-lahan_01-r282r1rw1pq4nxxis693sz1jki4kuqlo5yrb8ipi5s.jpg)
Program
Restorasi Hutan Adat dan Pembangunan Rumah Baca
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Hutan, Rumah, dan Harapan – Kisah Pemuda dan Masyarakat Adat Klisi Kampung Bring di Papua
Bayangkan kamu tinggal di sebuah kampung kecil di tengah hutan Papua. Setiap hari, kamu bisa melihat pohon-pohon tinggi menjulang, mendengar suara burung, dan merasakan sejuknya udara alami. Bagi Masyarakat Adat Syuglue Woi Yansu di Kampung Bring, ini bukan sekadar pemandangan—ini adalah rumah, sumber hidup, dan warisan leluhur. Masyarakat Adat di Kampung Bring ini hidup bersama 10 kampung lainnya di Lembah Grime Jayapura yang merupakan wilayah adat Suku Klisi.
Namun, semua berubah. Hutan yang selama ini menjadi tumpuan hidup mulai rusak. Aktivitas perusahaan kayu, perubahan iklim, dan serangan hama membuat lahan tak lagi produktif. Kakao, yang dulu jadi kebanggaan kampung, kini tinggal cerita. Banyak warga kehilangan pekerjaan, sebagian jadi buruh, sebagian lainnya menganggur. Masyarakat Adat juga mengalami ancaman ekspansi perusahaan kayu yang mengeksploitasi hasil hutan.
Di tengah situasi itu, muncul secercah harapan. Anak-anak muda kampung membentuk Komunitas Pemuda Adat Imoge Ku—sebuah wadah kaum muda, perempuan dan laki-laki, yang peduli pada hutan, lingkungan, dan masa depan kampung. Mereka nggak sendiri.
Bersama mereka, hadir juga Komunitas Masyarakat Adat Klisi, yang terdiri dari orang-orang tua, perempuan adat, dan tokoh masyarakat dari kampung. Komunitas ini jadi mitra penting dalam memastikan bahwa semua proses dilakukan berdasarkan nilai adat, musyawarah, dan kesepakatan bersama. Dengan kekuatan dua komunitas ini, masyarakat Kampung Bring meluncurkan dua inisiatif utama yaitu restorasi hutan adat dan pembangunan rumah baca.
Restorasi dimulai dengan menentukan lahan yang rusak—sekitar 5.000 hektar, bekas area aktivitas perusahaan. Bersama, pemuda dan Masyarakat Adat menanam: 500 pohon kayu besi, 500 pohon matoa, 500 bibit kopi robusta, 500 tunas pohon sagu. Jenis-jenis tanaman ini dipilih karena bermanfaat bagi lingkungan dan punya nilai ekonomi untuk masyarakat. Ini bukan sekadar menanam pohon, tapi juga tentang menghidupkan kembali hubungan antara manusia dan alam.
Selain hutan, mereka juga bangun satu ruang penting: rumah baca. Di tempat ini, anak-anak bisa membaca buku, belajar sejarah adat, mengenal lingkungan, dan menumbuhkan mimpi besar untuk masa depan kampung. Pembangunan rumah baca dilakukan dengan prinsip gotong royong. Komunitas Klisi ikut menyusun rencana, mengatur anggaran, menentukan lokasi, hingga menyediakan tukang. Semua dilibatkan, semua merasa memiliki.
Kini, baik Komunitas Pemuda Imoge Ku maupun Masyarakat Adat Klisi menyadari bahwa perjuangan menjaga hutan dan tanah adat harus dilakukan bersama. Mereka belajar saling menguatkan, saling melengkapi.
Cerita ini bukan cuma milik satu kampung di Papua. Ini gambaran bahwa kekuatan perubahan bisa dimulai langsung dari akar rumput. Bahwa ketika kaum muda dan masyarakat adat bersatu, hutan bisa dijaga, tanah bisa dipulihkan, dan mimpi bisa ditanam kembali.




