
Program
Peningkatan Kapasitas Kepemimpinan Komunitas Dalam Upaya Kedaulatan Pangan Lokal Berkelanjutan
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Akses Pangan Sehat Pertanian Organik dari Pekarangan Rumah Komunitas Petani Gaung Baru di Palangkaraya
Desa Gaung Baru, sebuah kampung yang terletak di daerah aliran Sungai (DAS) Rakumpit, anak Sungai Kahayan, Kecamatan Rakumpit, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dihuni oleh sekitar 450 jiwa dengan mayoritas berasal dari sub-etnis Dayak Ngaju, serta sebagian pendatang Batak dan Banjar. Mata pencaharian utama masyarakat adalah berladang, menangkap ikan di sungai, memetik hasil hutan, dan sebagian menambang emas secara mandiri.
Seiring waktu, masuknya proyek perkebunan kelapa sawit dan maraknya pertambangan emas ilegal mengubah lanskap desa. Hutan mulai menipis, ladang menyempit, dan sungai menjadi keruh akibat pencemaran merkuri. Banyak peladang dan nelayan kehilangan mata pencaharian, sementara penambang kecil pun tersingkir oleh pendatang dan penertiban. Krisis ini berdampak pada ketersediaan pangan lokal, kesehatan masyarakat, dan keberlangsungan pendidikan anak-anak. Kondisi tersebut diperburuk oleh minimnya pelibatan komunitas dalam pengambilan keputusan, terutama terkait perizinan dan pelepasan kawasan. Kelompok perempuan dan kelompok rentan nyaris tidak memiliki ruang untuk berpartisipasi.
Sumber pangan semakin bergantung pada pasokan dari kota Palangkaraya. Padahal jika ditilik lebih jeli masih ada pekarangan rumah, lahan kebun tersisa, dan sungai kecil yang belum terkena pencemaran tambang emas, dan kolam desa masih tersedia untuk dimanfaatkan jadi sumber pangan lokal. Potensi inilah yang kemudian menjadi titik awal perubahan di Desa Gaung.
Melalui pendampingan JPIC Kalimantan, Komunitas Petani Gaung Baru memulai serangkaian kegiatan penguatan kapasitas yang terfokus pada pemanfaatan sumber daya lokal. Pelatihan kepemimpinan dan GEDSI diikuti oleh 14 perempuan dan 9 laki-laki untuk memperkuat peran setara dalam pengambilan keputusan.
Pelatihan pertanian organik mempraktikkan pemanfaatan pekarangan dan kebun dengan menanam benih lokal, mengolah pupuk organik cair dan padat dari bahan sekitar seperti daun, tanah humus, dan rumput, serta memulai penyiapan lahan dengan media tanam langsung di pekarangan, kebun, maupun polybag. Selain itu, pembentukan dan legalisasi kelompok bisnis juga telah direncanakan sebagai wadah keberlanjutan usaha bersama.
Terlalu lama bergantung pada pasokan pangan dari Palangkaraya awalnya jadi batu sandungan dalam membangun kesadaran untuk peningkatan ekonomi berkelanjutan melalui pertanian di lahan pekarangan dan kebun. Kendala ini diselesaikan dengan pendekatan pelatihan yang memadukan diskusi, perencanaan, dan praktik lapangan membantu untuk mengubah pola pikir akan kemandirian. Metode SWOT juga diterapkan dalam pelatihan. Dimana komunitas pertama-tama diajak secara riil melihat masalah, tantangan dan peluang yang bisa dimanfaatkan untuk menjadikan ekonomi keluarga yang mandiri dalam pemenuhan kebutuhan.
Kendala juga dihadapi dalam hal pembibitan ikan. Ketersediaan ikan lokal terbatas akibat limbah tambang emas di sungai dan penggunaan potas yang menghancurkan ekosistem. Menyelesaikan kendala ini, maka untuk penyediaan bibit dan media pelihara ikan memanfaatkan program dari Dinas Pertanian Kota Palangkaraya. Panen ikan masih belum bisa dipanen.
Pelatihan dan praktek pertanian organik telah mendorong perubahan pola pikir dan tumbuhnya kesadaran, dari sebelumnya bergantung pada pasar menjadi mulai memanfaatkan lahan pekarangan dan kebun sendiri untuk memproduksi kebutuhan pangan keluarga yang sehat, seperti cabai dan sayur-mayur. Warga juga mulai melirik potensi pekarangan sebagai sumber penghasilan, memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk, dan merencanakan produksi pangan keluarga secara lebih matang. Kegiatan ini juga jadi sarana memperkuat jejaring sosial di Desa Gaung Baru. Kegiatan ini berdampak secara sosial pada 101 perempuan, 118 laki-laki, 73 generasi muda di Desa Gaung Baru.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa menumbuhkan kesadaran memang membutuhkan upaya berkesinambungan dan waktu yang cukup panjang sampai dengan komunitas bergerak seutuhnya. Untuk itulah, 14 pemimpin perempuan dan 9 pemimpin laki-laki yang sudah ditempa diharapkan dapat jadi motor penggerak, serta pembentukan & legalisasi kelompok bisnis yang tengah dipersiapkan untuk dilegalkan akan menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan inisiatif. Ini akan memastikan hasil dan manfaat yang telah dicapai dapat terus tumbuh berkembang di masa mendatang.




