
Program
Mendorong Kemandirian Pesantren melalui Praktik Ekonomi Lestari
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Praktik Ekonomi Lestari di Pondok Pesantren Padarincang
Mayoritas masyarakat di Desa Cisauk dan Desa Batu Kuwung, Padarincang, Banten menggantungkan hidup dari praktik pertanian. Namun, usaha itu terancam dengan hadirnya rencana investasi untuk pembangunan pembangkit listrik bertenaga panas bumi (PLTPb) atau geothermal. Kebutuhan air untuk geothermal yang sangat banyak itu tentu akan mengambil jatah kebutuhan air pertanian masyarakat. Belum lagi, pembangunan geothermal juga akan memperbesar potensi terjadinya bencana lain, seperti kekeringan, banjir, dan longsor.
Dampak buruk itu tentu juga akan dirasakan oleh Pondok Pesantren (Ponpes) Furu Raudatul Baqiat yang berlokasikan di kecamatan yang sama. Terhitung sampai dengan tahun 20214, sudah 15 tahun masyarakat Padarincang gigih menolak pembangunan PLTPb, termasuk Furu Raudatul Baqiat dan beberapa ponpes lain yang berada di wilayah ini. Aksi warga Padarincang sementara waktu berhasil menghentikan pembangunan PLTPb, walau belum sepenuhnya batal.
Untuk memperkuat gerakan ke depan, maka Ponpes Furu Raudatul Baqiat memilih jalan alternatif yakni penguatan ekonomi dengan pertanian berkelanjutan ramah lingkungan. Fokus juga ditekankan pada n peningkatan kapasitas para santri sebagai bekal setelah lulus nanti. Dengan dukungan Pendanaan Langsung Nusantara Fund, ragam upaya seputar pertanian berkelanjutan. Kegiatan-kegiatannya meliputi pelatihan pengelolaan pakan kambing, pelatihan membaca kalender musim dan tata guna lahan, pengenalan risiko dan keuntungan pertanian ramah lingkungan, serta pelatihan pengelolaan biogas dan pupuk organik.
Penetapan topik pertanian ramah lingkungan ada hubungannya dengan praktik pertanian yang dilakukan oleh masyarakat sekitar ponpes. Mayoritas pertanian di sekitar ponpes dikelola dengan menggunakan bahan kimia. Itulah tujuan besar dari peningkatan kapasitas santri, yaitu untuk mengintegrasikan pertanian di ponpes dengan pertanian masyarakat sekaligus untuk mempengaruhi masyarakat sekitar untuk mempraktikkan pertanian berkelanjutan yang bebas dari penggunaan bahan kimia.
Dalam pelaksanaannya, program di Ponpes Furu Raudatul juga berbagi peran denganponpes lain, seperti Ponpes Barakatul Ad’iyah dan Ponpes Darul Murokobah. Oleh sebab itu, peserta pelatihan pun merupakan santri dari 3 ponpes tersebut dan masyarakat Padarincang yang tertarik dengan topik pertanian berkelanjutan. Selain pelatihan, Pendanaan Langsung Nusantara Fund juga digunakan untuk pengadaan indukan kambing yang dibagikan ke tiga ponpes tadi. Kambing-kambing itu nantinya akan mendukung praktik pertanian berkelanjutan di tiga ponpes, baik dari perkembangbiakan ternak maupun dari kotoran yang dihasilkan.
Pelaksanaan program di ponpes juga ada tantangannya, seperti saat pelatihan pengelolaan biogas. Lantaran ada perlengkapan yang harus dibeli dari luar Padarincang dan tentunya akan memperbesar anggaran, akhirnya pelatihan hanya dilaksanakan pada penyampaian teori atau tidak sampai pembuatan instalasi tangki biogas. Demikian juga tentang perawatan ternak kambing. Di ketiga ponpes, ternak kambing yang dirawat ada yang mati karena sakit. Namun, seiring perjalanan waktu, para santri kini telah memahami cara mengetahui tanda kambing sakit dan bagaimana cara menangani.
Program ini secara langsung memberikan manfaat kepada santri dan ponpes yang terlibat dalam kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas. Namun, jika berbicara dampak luas, program ini juga memiliki peluang memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar ponpes di Padarincang, khususnya berbicara soal pengaruh pelaksanaan pelatihan pertanian berkelanjutan kepada masyarakat luas.




