Program
Pengembangan sekolah lingkungan aceh (SLA) sebagai wadah regenerasi kader lingkungan hidup di Aceh
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Sekolah Lingkungan Aceh: Regenerasi Kader Lingkungan Hidup di Aceh
Sekolah Lingkungan Aceh telah berdiri sejak tahun 2019 khususnya untuk melakukan perluasan gerakan lingkungan ditengah dampak ekologis dari deforestasi masif dan krisis iklim yang telah dihadapi oleh Aceh dengan tingkat kepedulian yang rendah di generasi muda Aceh. SLA telah melahirkan kelompok muda penggerak kesadaran lingkungan di Aceh. Pendanaan langsung Dana Nusantara menguatkan inisiatif lanjutan di tahun 2025 untuk kapasitas kelembagaan termasuk fasilitas penunjang, perbaikan kualitas kurikulum, regenerasi kepemimpinan SLA, dan juga perluasan dukungan isu dan gerakan lingkungan terutama berjejaring dengan sekolah formal, kelompok agama, kelompok rentan, kampus, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat sipil di Aceh. Sehingga gerakan lingkungan dapat bertransformasi menjadi gerakan sosial bersama untuk keadilan ekologis di Aceh.
Di tahun 2025, Sekolah Lingkungan Aceh (SLA) berhasil melahirkan angkatan ketujuh sebagai kader lingkungan hidup di Aceh. Melalui dukungan Dana Nusantara (Danus), proses belajar-mengajar di SLA berjalan dengan lancar, dengan jumlah pertemuan sebanyak 15 (lima belas) kali pertemuan. Tema yang disampaikan antara lain: Pengurus juga telah melakukan serangkaian kegiatan untuk pengembangan SLA mulai dari peningkatan fasilitas penunjang, pengembangan kurikulum hingga penguatan jejaring. Seluruh kegiatan berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran, sehingga dapat memperkuat posisi SLA sebagai wadah regenerasi kaderisasi lingkungan hidup di Aceh. SLA telah memiliki sejumlah fasilitas penunjang untuk kelancaran proses belajar-mengajar dan melaksanakan program yang telah disusun pengurus SLA. Fasilitas penunjang yang dimaksud berupa penimbunan lantai tempat sekretariat SLA, pengadaan kursi, meja, whiteboard dan perlengkapan dasar lainnya. Lewat perbaikan ini terasa dampak secara langsung, khususnya pada saat proses belajar-mengajar yang terasa lebih efektif. Selain peningkatan fasilitas penunjang, SLA juga mendapatkan dukungan pembaruan dan pengembangan kurikulum melalui beberapa kali FGD dengan melibatkan berbagai pihak. Kurikulum yang telah dihasilkan telah disusun untuk berbagai dinamika kebijakan dan persoalan lingkungan hidup yang terjadi salam ini, khususnya di Aceh. Dan materi yang disampaikan kepada siswa diupayakan relevan dengan konteks kekinian dan mampu menumbuhkan daya pikir kritis terutama apa yang dapat dilakukan sebagai kader muda di persoalan lingkungan di Aceh.
Dukungan Danus juga memberikan dampak positif untuk internal SLA dengan adanya penguatan kelembagaan. Pengurus SLA mendapatkan pengalaman dalam pengelolaan keuangan, manajemen organisasi, serta lobi dan kolaborasi lintas lembaga. Peningkatan kapasitas manajerial tersebut semakin memperkuat kapasitas pengurus SLA dalam melahirkan regenerasi kepemimpinan yang berwawasan lingkungan. Inisiatif SLA memberikan dampak melahirkan 39 kader-kader muda baru yang peduli persoalan lingkungan. Keberadaannya menjadi strategis sebagai wadah regenerasi kader lingkungan di Aceh. Dukungan secara berkelanjutan sangat dibutuhkan agar SLA mampu memperluas pengaruh, dampak serta perubahan untuk mencetak lebih banyak lagi generasi muda yang siap menjaga keberlanjutan lingkungan hidup di Aceh.




