Program
Pengembangan Produk Turunan Ikan Gabus sebagai Peningkatan Ekonomi Masyarakat Ekosistem Rawa Gabut di Desa Bararawa Tahun 2025
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Pengembangan Produk Turunan Ikan Gabus sebagai Peningkatan Ekonomi Masyarakat Ekosistem Rawa Gambut di Desa Bararawa, Kalimantan Selatan.
Kecamatan Paminggir yang berada di Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan. Karena daerah tersebut memiliki hamparan rawa gambut yang luas, maka mata pencaharian masyarakat tidak lepas dari ekosistem yang ada. Namun pada tahun 2015-2017 perkebunan monokultur kelapa sawit menimbulkan perlawanan dari masyarakat di sana. Walhi Kalimantan Selatan serta masyarakat berhasil mempertahankan wilayah mereka dari usaha ekstraktif tersebut. Pada tahun 2019 ancaman tersebut datang lagi.
Pada tahun 2018 Walhi Kalsel telah memfasilitasi pendampingan pengusulan perhutanan sosial dan pada tahun 2021 telah disetujui KLHK. Walhi Kalsel dan masyarakat masih melihat adanya ancaman invasi perkebunan kelapa sawit yang masih terbuka, maka diperlukan perlindungan wilayah tersebut melalui konservasi hayati dan pengembangan ekonomi masyarakat. Ikan gabus merupakan salah satu komoditas melimpah di Desa Barawa yang mempunyai pasar yang sangat tinggi sehingga mengalami permasalahan dalam harga jual dan saat musim panen maka harga sangat rendah. Juga akses pasar yang terbatas dikuasai oleh para pengepul yang menentukan harga beli.
Untuk merespon permasalahan di atas program ini melakukan pengolahan ikan gabus untuk dijadikan ikan asin sebagai produk turunan dan menjaga kestabilan harga. Kegiatan berlangsung melalui beberapa tahapan yaitu pembuatan rumah produksi ikan asin haruan, agar memiliki fungsi strategis dalam mengoptimalkan potensi lokal serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Juga tahap pembelian alat dan bahan produksi ikan asin haruan, dan proses produksi ikan asin haruan. Pemasaran ikan asin haruan bekerja sama dengan koperasi WALHI Kalsel dan dipasarkan ke pasar lokal. Serta dilakukan monitoring dan evaluasi program.
Kendala atau tantangan yang dialami adalah ketergantungan cuaca, ketersediaan bahan baku dan manajemen organisasi. Dari program ini yang menerima manfaat secara langsung adalah anggota dan pengurus Kelompok Mupakat serta nelayan tangkap ikan gabus, dan penerima manfaat secara tidak langsung adalah Koperasi Banua Bawana Lestari sebagai pembeli produk.
Perubahan terlihat dengan transformasi dari nelayan tangkap menjadi kelompok budidaya yang lebih terorganisir. Meningkatnya pola pikir serta kemandirian masyarakat yang awalnya hanya mencari ikan di alam kini beralih menjadi pembudidaya, dan juga untuk sistem produksi Kelompok Mupakat mulai menggunakan keramba untuk menjaga stok persediaan ikan, jadi tidak lagi bergantung pada hasil tangkapan musiman, karena perbaikan pengemasan menjadikan harga jual serta jangkauan pasar hingga ke luar daerah. Dan perubahan juga terlihat dari keterlibatan perempuan pembudidaya ikan gabus di Kelompok Mupakat di pengolahan produksi turunan ini. Hal ini yang juga ke depannya akan ditingkatkan.
