
Program
Rehabilitasi dan perlindungan kawasan Green Belt Waduk Bili-bili untuk menjaga sumber-sumber kehidupan komunitas
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Masyarakat Adat Ba’tan Palopo Menjaga Kesehatan Lingkungan dengan Mengelola Sampah Daerah Aliran Sungai (DAS) Berbasis Ekonomi Dan Ekologi
Penguatan Masyarakat Adat Ba’tan dalam Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi dan Ekologis di Daerah Aliran Sungai (DAS) Battang lahir sebagai respons langsung terhadap masalah pencemaran yang mengancam hulu hingga hilir sungai. Masyarakat Adat Ba’tan, yang tinggal di dataran tinggi pegunungan (hulu) Palopo, menyaksikan sampah berserakan di sepanjang jalan provinsi yang melintas wilayah mereka dan menumpuk di tepi Sungai Battang. Pihak pengangkutan Sampah juga kesulitan dan terbatas kapasitasnya dalam membersihkan timbulan sampah yang mulai mencemari lingkungan. Alih-alih menunggu pihak lain menangani masalah ini, Masyarakat Adat mengambil tindakan langsung di sumber pencemaran melalui inisiatif pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Dipimpin oleh Yayasan Bumi Sawerigading (YBS), program ini mengubah sampah dari beban menjadi peluang ekonomi dengan melatih 35 perempuan dan 30 pemuda untuk memisahkan sampah organik dan anorganik, yang kemudian dijual melalui Bank Sampah Baruga YBS palopo. Strategi ini tidak hanya memberikan alternatif sumber pendapatan, terutama penting untuk pemulihan ekonomi pasca-COVID-19, tetapi juga menciptakan insentif langsung bagi masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap bersih. Dengan lingkungan yang sehat, terbuka pula peluang bisnis baru karena kawasan yang bersih mampu menarik kunjungan lokal, nasional, bahkan internasional.
Keberhasilan program ini juga sangat bergantung pada pendekatan budaya dan musyawarah adat, yang membangun kesadaran, tanggung jawab bersama, dan kesepakatan kolektif dalam menangani masalah lingkungan. Program ini memanfaatkan struktur kepemimpinan tradisional dan nilai-nilai komunitas yang kuat sebagai alat mobilisasi, sehingga solusi yang diterapkan tetap selaras dengan budaya lokal.
Kolaborasi multi pihak menjadi kunci keberlanjutan program, dengan dukungan dari komunitas Ba’tan, YBS, Pemerintah Kota palopo termasuk Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Forum Belajar Mapaccing (FBM), pemimpin desa dan kecamatan, serta mitra bisnis seperti PDAM kota palopo dan BPD SulSelBar. Aliansi luas ini membuktikan bahwa penanganan masalah lingkungan kompleks memerlukan kerjasama dan koordinasi antara masyarakat, pemerintah, lembaga non-profit, dan sektor swasta.
Melalui pendekatan yang berfokus pada sumber pencemaran, pengelolaan sampah sebagai ekonomi kreatif, penguatan budaya lokal, dan kolaborasi multi-stakeholder, program ini telah menciptakan model pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan dapat ditiru oleh Masyarakat Adat lain. Kisah Masyarakat Adat Ba’tan ini menunjukkan bahwa perubahan transformatif dapat dimulai dari mana saja, bahkan dari komunitas yang paling dekat dengan masalah, dan menjadi inspirasi bagi kita untuk menemukan potensi tersembunyi dalam komunitas kita sendiri untuk menyelesaikan tantangan lingkungan terbesar.




