
Program
Penguatan Ekonomi Petani Kapa Sumatera Barat Pasca Menghadapi Land Grabbing
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Solusi Ekonomi Kolektif: Perempuan Petani KAPA Melawan Pasaman Barat Berkebun Melon Hidroponik
Pada tahun 2019, sebanyak 200 orang Petani KAPA Melawan telah berhasil melakukan reklaiming tanah ulayatnya yang diwariskan secara turun temurun dari perusahaan perkebunan sawit seluas 600 hektare. Hal ini dilakukan saat perusahaan berupaya untuk melakukan replanting atau penanaman kembali tanaman sawit yang bersamaan dengan izin penggunaan lahan tersebut berakhir. Selanjutnya, untuk memastikan pengakuan dan perlindungan hak ulayatnya maka petani Kapa kemudian mengajukan Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA) kepada Kementerian ATR/ BPN melalui dampingan Serikat Petani Indonesia. Setelah reklaiming, selama bertahun-tahun petani memanfaatkan lahan garapannya untuk menanam jagung, padi, pepaya, palawija dan lain sebagainya yang berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan petani.
Namun sayangnya pada tahun 2024, lahan garapan hasil reklaiming tersebut kembali dirampas sepihak oleh perusahaan perkebunan sawit yang berdampak terhadap hilangnya akses sumber penghidupan dan penghasilan petani. Tidak sampai disitu, petani yang selama ini berjuang untuk mempertahankan hak ulayatnya terus mendapatkan intimidasi dan tekanan dari perusahaan. Disisi lain, hilangnya sumber penghasilan petani berdampak terhadap semangat perjuangan petani dan kesulitan ekonomi petani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Oleh karena itu, Perempuan Petani KAPA Melawan dengan dampingan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang menginisiasi pelaksanaan program penguatan ekonomi petani Kapa pasca menghadapi perampasan lahan (Land Grabbing) melalui budidaya kebun melon hidroponik di lahan kolektif petani seluas 360 m² atau 0,036 hektare sekaligus sebagai wadah bagi petani untuk meningkatkan kembali konsolidasi gerakan perempuan tani dalam mempertahankan dan melindungi wilayah kelolanya dari ancaman perkebunan sawit.
Dampaknya, sebanyak 31 orang petani perempuan Kapa memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai cara budidaya melon secara hidroponik mulai dari penyemaian, perawatan, penyerbukan, masa panen hingga pengolahan pasca panen. Adapun potensi hasil produksi melon yang dihasilkan sebanyak 1.360 buah dengan menyimpan nilai ekonomi sebesar 136 juta rupiah dalam sekali panen. Hal ini juga berdampak terhadap lahirnya 5 kader pemimpin perempuan petani yang aktif memimpin kegiatan organisasi, termasuk advokasi konflik agraria dan pengembangan ekonomi alternatif.




