
Program
Diversifikasi dan Pengayaan Komoditas Agroforestri di Areal KTH Setia Kawan
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
KTH Setia Kawan Bengkulu Menuju Wanatani Kopi Berkualitas
Pengelolaan lahan kopi dengan skema wanatani atau agroforestri merupakan pengolahan lahan yang diterapkan oleh masyarakat di Desa Air Selimang, Kecamatan Seberang Musi, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu. Salah satu contohnya yang dipraktekkan oleh Kelompok Tani Hutan Setia Kawan, mereka telah menerapkan pola pengelolaan lahan dengan metode tersebut secara turun temurun. Cara tersebut terbukti lebih efektif dengan memanfaatkan satu lahan untuk budidaya kopi tanpa merusak fungsi ekologisnya. Praktek wanatani atau agroforestri dilakukan dengan tetap mempertahankan tanaman berkayu yang di bawahnya ditanami kopi.
Wilayah Desa Air Selimang berada di kawasan pegunungan yang masih berada dalam kawasan bukit barisan selatan yang memiliki fungsi sebagai hutan lindung. Tanaman kopi yang dikelola dengan agroforestri terbukti mampu meningkatkan fungsi ekologis sekaligus produktivitas ekonomi. Berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Perhutanan Sosial pemanfaatan areal Perhutanan sosial di kawasan hutan lindung dapat dilakukan dengan budidaya kopi.
Pada 10 November 2009, Pemerintah Kabupaten Kepahiang menerbitkan SK Nomor 470 Tahun 2009 tentang Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) kepada kelompok-kelompok tani di Kecamatan Ujan Mas, Kecamatan Kepahiang, dan Kecamatan Seberang Musi, Kabupaten Kepahiang. Dalam keputusan tersebut, sebanyak 45 kelompok tani hutan dengan total 1.051 orang petani ditetapkan sebagai penerima manfaat atas areal kerja Hutan Kemasyarakatan dengan total luas 1.414,75 hektar. Salah satu kelompok yang masuk dalam SK ini adalah Kelompok Tani Hutan Setia Kawan, yang beranggotakan 22 kepala keluarga dan memiliki areal kerja seluas 29 hektar.
Dengan adanya legalitas ini, kelompok tani hutan, termasuk Kelompok Tani Hutan Setia Kawan, mendapatkan pengakuan resmi atas wilayah kelola mereka. Pengelolaan ini telah berlangsung lama melalui skema wanatani, dengan kopi sebagai komoditas utama, jauh sebelum penunjukan dan penetapan status kawasan hutan oleh negara serta penerbitan izin Hutan Kemasyarakatan. Praktek wanatani ini terbukti berhasil dan terbukti memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat tanpa mengurangi fungsi ekologisnya.
Namun, tantangan muncul karena sebagian besar tanaman kopi yang ada berusia 15–30 tahun, yang melebihi masa produktif optimalnya, yaitu 5–20 tahun. Akibatnya, produksi kopi yang ada saat ini tergolong rendah hanya 300 – 500 gram/pohon, sehingga untuk menjawab persoalan yang ada tersebut maka dibutuhkan penguatan dan pengembangan pengelolaan wanatani kopi melalui dukungan peningkatan kapasitas teknis pengelolaan dan tempat persemaian pembibitan.
Menyadari adanya persoalan tersebut, KTH Setia Kawan berinisiatif untuk meningkatkan produktivitas hasil dari tanaman kopi dan kualitas produk kopi. KTH berupaya meningkatkan kapasitas anggota melalui penyelenggaraan pelatihan bisnis dan kelembagaan dalam rangka peningkatan kualitas hasil produk kopi KTH Setia Kawan. Pelatihan ini menghasilkan perencanaan program KTH dalam budidaya kopi yang dimulai dari pengolahan, pemanenan, dan distribusi produk. Dalam pelatihan tersebut KTH Setia Kawan juga mendapatkan pemahaman terkait pengelolaan kelembagaan mulai dari administrasi, manajemen keuangan, dan tata kelola kelompok.
Tidak hanya itu, demi meningkatkan produktivitas hasil kopi, KTH berinisiatif menyediakan sarana produksi pangan yang dilakukan melalui pembangunan bibit persemaian kopi yang dilakukan secara gotong royong. Mereka memulainya dengan menyemai benih kopi sebanyak 4 kilogram. Demi meningkatkan produktivitas hasil, KTH melakukan penyulaman tanaman kopi dan penanaman pohon berkayu. Ini berfungsi untuk mengganti tanaman kopi yang produktivitasnya rendah atau tanaman kopi yang berumur di atas 15 tahun dengan tetap mempertahankan fungsi ekologisnya. Mereka melakukannya dengan menanam 660 bibit kopi dan 214 bibit durian.




