Program
Penguatan Kelompok Tani Ternak dan Pengembangan Usaha Ternak
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Kelompok Tani Ternak Lembu Mulyo di Jawa Timur Memperkuat Resiliensi Gerakan melalui Penguatan Ekonomi Peternakan Sapi
Bagi masyarakat Desa Lembu Mulyo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sapi tidak hanya dianggap sebagai hewan ternak. Masyarakat menganggap sapi sebagai tabungan, simpanan darurat dan penunjang kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini menjadikan peternakan sapi sebagai sumber penghidupan jangka panjang masyarakat. Ditengah harapan tersebut, masyarakat masih diperhadapkan dengan masalah ketidakpastian harga jual ternak sapi, peternak sering menjadi korban praktik curang tengkulak (blantik) dan jagal yang menekan harga secara sepihak yang berdampak terhadap adanya ketidakadilan pendapatan bagi peternak. Disisi lain, masyarakat juga diperhadapkan dengan adanya ancaman konsesi tambang emas di Gunung Tumpang Pitu yang berada disekitarnya yang telah beroperasi di lahan seluas 11.621 hektar.
Melihat situasi ini, pada tahun 2023 masyarakat Desa Lembu Mulyo kemudian membentuk Kelompok Tani dan Ternak Lembu Mulyo untuk memutus rantai tengkulak dan jagal sapi, memastikan peternak menentukan harga sapi sendiri berdasarkan timbangan hidup yang sesuai dengan acuan harga eceran daging di pasar, dan menolak keberadaan tambang emas yang dianggap dapat merusak lingkungan dan mengancam kehidupan pertanian serta peternakan.
Selanjutnya Kelompok Tani Ternak ini mendorong inisiatif penguatan usaha peternakan sapi untuk meningkatkan kestabilan harga jual ternak melalui sistem perlindungan harga berbasis komunitas dan meningkatkan pendapatan melalui usaha pemenuhan kebutuhan daging bagi anggota dan pengolahan produk seperti bakso, dan produk turunan lainnya. Dengan memperkuat rantai ekonomi, kelompok Lembu Mulyo berupaya menunjukkan bahwa ekonomi berbasis masyarakat bisa menjadi benteng dari ekspansi industri ekstraktif yang merusak lingkungan.
Inisiatif ini berhasil memutus ketergantungan peternak sapi dari tengkulak maupun jagal sapi dengan menjual langsung daging sapi kepada anggota kelompoknya sebesar Rp.120.000/kg dan diluar anggota kelompok sebesar Rp.130.000. Harga ini dianggap lebih murah Rp.20.000 dibandingkan dengan harga daging sapi di pasar yang bisa mencapai harga Rp.140.000. kondisi ini menguntungkan anggota kelompok karena tidak lagi membeli daging sapi dengan harga tinggi untuk membuat produk olahan dari sapi seperti bakso dan pentolan dari pasar. Disisi lain, penguatan ekonomi ini juga telah berdampak pada semakin menguatnya komitmen dan soliditas masyarakat untuk menolak tambang emas di wilayahnya.