TOTAL DANA 2023 - 2027

$750,000

Re-Granting - General Support - Institutional Support

TOTAL DANA AGUSTUS 2023 - JULI 2024

$250,000

Institutional Support

TOTAL DANA OKTOBER 2024 - SEPTEMBER 2029

$5,000,000

General Support

TOTAL DUKUNGAN DANA $800,000

Agustus 2023 - September 2024 ( $300,000 )
Februari 2025 - Juli 2026 ( $500,000 )

Pendanaan Langsung ( Re-Granting )

TOTAL DUKUNGAN DANA 2023 - 2027

$1,050,000

Re-Granting - General Support

TOTAL DANA 2024 - 2026

$2,500,000

Re-Granting - Endowment
Foto 088
Sumber Foto : Kelompok Usaha Mikro Putri Lolaro dan Kelompok Usaha Mikro Forimoi
Program

Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Laut yang Berkelanjutan untuk Penguatan Usaha Mikro Pengolahan Ikan di Kampung Pesisir

Organisasi Penanggung Jawab
WALHI
Lokasi
Maluku Utara
Pendanaan Langsung
Rp100,000,000
Periode
Mulai
01/01/2025
Berakhir
25/04/2025
Target
4. Model produksi, distribusi, dan konsumsi yang berkeadilan dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip Masyarakat Adat, Petani, Nelayan, Perempuan, dan Generasi Muda
Status
Selesai

Bagikan ke :

Facebook
WhatsApp
X

Usaha Mikro Kolektif Kelompok Perempuan di Kampung Wayabula Morotai Mengelola Sumber Daya Pesisir Berkelanjutan . 

Di pesisir Desa Wayabula, Kabupaten Pulau Morotai, kehidupan masyarakat bergantung pada laut dan wilayah pesisir yang telah mereka kelola secara turun-menurun. Ikan julung-julung yang diolah menjadi ikan roa bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi bagian dari sistem penghidupan rakyat yang menghubungkan nelayan kecil, perempuan pengolah, hutan bambu, dan perairan pesisir.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, sistem penghidupan ini berada dalam tekanan. Dalam keseharian melaut, nelayan tangkap skala kecil menghadapi biaya produksi yang tidak sebanding dengan hasil tangkapan yang terus menurun. Perubahan cuaca, rusaknya lingkungan pesisir, dan cara menangkap ikan yang merusak membuat ruang hidup nelayan tradisional semakin sempit. Pada saat yang sama kebijakan pembangunan dan pengelolaan laut sering kali tidak memperhatikan kebutuhan masyarakat lokal.

Di Wayabula, ketidakpastian pendapatan nelayan berdampak langsung pada rumah tangga. Perempuan kemudian mengambil peran penting dalam mendukung ekonomi keluarga. Mereka terlibat aktif dalam seluruh proses pengolahan ikan roa, mulai dari menyiapkan bambu galafea yang diambil dari kebun dan hutan sekitar kampung, mengasapi ikan semalaman, hingga mengikat dan menyiapkan hasil produksi untuk dijual. Hal ini menjadi fondasi ekonomi kampung, meski selama ini berjalan tanpa penguatan kelembagaan dan akses pasar yang adil.

Pengolahan ikan roa masih dilakukan dengan cara tradisional dan sangat bergantung pada kondisi alam di pesisir dan hutan sekitarnya. Setiap satu waya berisi sekitar 20-22 ekor ikan julung-julung yang diasap semalaman. Jika air laut menjadi keruh karena cuaca buruk atau kerusakan lingkungan, ikan akan sulit ditemukan dan proses produksi pun berhenti. Hal ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan secara langsung berdampak pada penghasilan dan kondisi ekonomi masyarakat pesisir.

Situasi menjadi lebih rumit karena Wayabula berada di kawasan Taman Wisata Perairan Pulau Rao Tanjung Dehegila. Penetapan kawasan konservasi, masuknya perusahaan perikanan besar, dan pengembangan pariwisata nasional membuat perebutan ruang laut menjadi tidak seimbang. Nelayan kecil harus menghadapi banyak pembatasan area tangkap, sementara pengawasan terhadap penangkapan ilegal dan kerusakan lingkungan masih lemah. Akibatnya, masyarakat lokal sering menjadi pihak yang paling dirugikan, dan jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Menjawab kondisi tersebut, Perkumpulan Pakativa bersama kelompok usaha mikro perempuan di Desa Wayabula memperkuat usaha ekonomi yang sudah ada di kampung. Dua kelompok perempuan, Putri lolaro dan Forimoi, menjadi penggerak utama. Mereka tidak membangun usaha baru, tetapi memperbaiki cara kerja dan pembagian manfaat agar lebih adil dan berkelanjutan.

Secara bersama-sama, perempuan Wayabula memproduksi ikan roa dan menghidupkan kembali produk turunan seperti abon ikan dan sambal roa. Nelayan tangkap kecil, khususnya armada giop, berperan sebagai pemasok ikan. Usaha ini dijalankan bertahap untuk menjaga kelangsungan produksi dan memastikan hasilnya bisa dinikmati banyak keluarga, bukan hanya segelintir orang. Dan nilai tambah dari produk usaha mikro kolektif mereka merupakan upaya dari ijin usaha NIB dan PIRT yang berhasil diperoleh.

Pendapatan dari usaha ini tidak hanya untuk menambah penghasilan, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran menjaga wilayah kelola kampung. Hutan bambu, mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang dipahami sebagai satu kesatuan yang menopang kehidupan dan ekonomi warga. Karena itu, pemetaan wilayah kelola rakyat dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga ruang pesisir.

Penguatan ekonomi ini juga disertai dengan kegiatan kampanye melalui media sosial dan film dokumenter. Cerita ikan roa Wayabula diangkat sebagai kisah tentang perempuan pesisir, ekonomi rakyat, dan upaya mempertahankan ruang hidup. Program ini memberi manfaat langsung bagi perempuan pengolah dan nelayan, serta berdampak bagi keluarga dan anak-anak di Wayabula. Di Wayabula, ikan roa menjadi simbol hubungan antara manusia dan alam. Dari kerja bersama perempuan pesisir, tumbuh ekonomi kampung yang dikelola secara kolektif, adil, dan selaras alam.

Scroll to Top