Program
Pengembangan Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Agroekologi Bingkai Alamraya
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Petani Aceh Tamiang kembali ke Pertanian Tanpa Pestisida Selaras Alam
Petani di lima desa di Kabupaten Aceh Tamiang, Tanjung Paret, Lubok Batil, Lambung Blang, Balai (Kecamatan Bendahara), dan Rantau Panjang (Kecamatan Karang Baru), menghadapi berbagai persoalan dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Sebagian besar masih menggunakan pupuk kimia buatan pabrik yang harganya mahal dan ketersediaannya semakin langka. Penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus juga dikhawatirkan menyebabkan kerusakan lingkungan, penurunan unsur hara tanah, dan berdampak pada kesehatan.
Di sisi lain, praktik pertanian yang hanya fokus pada satu komoditas seperti padi belum memaksimalkan potensi lahan. Padahal, teknologi pertanian tradisional seperti sistem mina padi, integrasi budidaya ikan dan padi, dapat meningkatkan hasil panen dan menjadi sumber penghasilan tambahan. Limbah pertanian dan peternakan yang seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk juga masih terbuang, karena minimnya pelatihan tentang pembuatan pupuk organik. Kondisi ini mendorong Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Agroekologi Bingkai Alamraya untuk merespons dengan memperkuat fasilitas belajar dan menyelenggarakan pelatihan pembuatan pupuk organik. Inisiatif ini tidak hanya menargetkan peningkatan kapasitas individu, tapi juga memperkuat kelembagaan lokal agar mampu mengelola pertanian yang mandiri dan ramah lingkungan.
Langkah awal dimulai dari perbaikan infrastruktur pelatihan. Gedung serba guna seluas 10×23 meter direnovasi dengan pemasangan plafon untuk menciptakan ruang belajar yang nyaman. Pipanisasi air dilakukan di lahan darat dan sawah Pusdiklat untuk menunjang praktik pertanian. Pagar diperbaiki agar ternak tidak mengganggu proses produksi. Fasilitas administrasi juga diperkuat dengan pengadaan laptop dan kamera dokumentasi. Semua perbaikan ini menjadikan Pusdiklat sebagai pusat agrowisata dan edukasi yang siap dikunjungi oleh masyarakat umum.
Pelatihan pembuatan pupuk organik kemudian digelar di lima desa. Sebanyak 125 petani dari mengikuti pelatihan pembuatan pupuk padat (bokhasi dan kompos) serta pupuk cair (auksin). Bahan-bahan yang digunakan sebagian tersedia daril limbah sekitar, seperti kotoran ternak dan sekam padi, sementara bahan fermentasi utama seperti EM-4 dan molase disediakan oleh YBA.
Pelatihan ini membuka wawasan baru bagi petani tentang cara mengolah limbah menjadi sumber daya produktif. Mereka juga memahami bahwa ketergantungan terhadap pupuk kimia dapat dikurangi, bahkan diatasi, dengan pengelolaan bahan lokal yang ramah lingkungan. Sebagian peserta mulai mengaplikasikan pupuk yang mereka buat pada tanaman sayur dan cabai, dan proses replikasi pengetahuan ini terus bergulir melalui pembelajaran sejawat antar petani.
Tak hanya berhenti di pelatihan, YBA juga mendorong diversifikasi usaha tani melalui sistem mina padi: integrasi budidaya ikan dan padi dalam satu petak sawah. Kolam mina padi seluas 400 meter persegi dibangun dan diisi dengan ikan nila dan ikan mas. Walaupun hasil panen ikan belum maksimal, pendekatan ini menjadi alternatif ekonomi yang menjanjikan dan memperkaya pemahaman petani tentang bagaimana memaksimalkan potensi lahan yang mereka kelola.
Pusdiklat telah berkembang menjadi pusat agrowisata dan edukasi bagi setidaknya penduduk di 6 kecamatan dan 16 kampung di Aceh Tamiang. Masyarakat umum, termasuk mahasiswa, mulai mengunjungi lokasi ini untuk belajar. Kelompok tani yang belum sempat mengikuti pelatihan mulai meminta pelatihan serupa di desa mereka. WhatsApp Group “Pertanian Selaras Alam” menjadi ruang berbagi antar petani yang telah mengikuti pelatihan dan pengurus YBA, mempercepat transfer pengetahuan dan memperkuat jejaring antar komunitas dampingan.
Inisiatif ini memperlihatkan bahwa dengan pelatihan yang tepat dan fasilitas yang memadai, petani mulai mengenal cara-cara baru dalam mengelola pertanian ramah lingkungan secara mandiri. Pemanfaatan limbah sebagai bahan pupuk organik menjadi langkah awal untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan mendorong pengelolaan pertanian yang lebih berkelanjutan.