Program
Upaya Restorasi Bantaran Sungai Ponyowe Di Ketemenggungan Masyarakat Adat Jongkakng Bonua Tumo’k Desa Pisang Kecamatan Jangkang Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Masyarakat Adat Jongkakng Bonua Tumo’k di Kalimantan Barat Memulihkan Air melalui Tradisi Tanam Multikultur
Desa Pisang, Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, berada jauh dari hiruk-pikuk kota. Untuk sampai ke kesini, perlu menempuh empat jam perjalanan darat dari ibu kota kabupaten melalui jalan yang tidak selalu bersahabat. Terpencil dan terisolasi, Desa Pisang menyimpan kekayaan hayati luar biasa. Dengan luas wilayah sekitar 25.000 hektar, wilayah ini didominasi oleh hutan lindung dan hutan produksi, serta memiliki topografi perbukitan dan bentang sungai yang menjadikan tanahnya sangat ideal sebagai area resapan air.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, wajah Desa Pisang ini mulai berubah. Karena anjloknya harga komoditas seperti padi, lada, dan karet sehingga tidak mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan pokok, masyarakat Desa Pisang beralih ke sawit sebagai solusi ekonomi. Pergeseran ini menyebabkan perubahan drastis dalam pola tanam, dari sistem multikultur yang diwariskan secara turun-temurun menjadi sistem monokultur.
Perubahan fungsi lahan secara masif hampir di seluruh 7 Dusun di Desa Pisang Kebun karet, kebun lada, ladang dan bahkan areal bantaran sungai, khususnya Sungai Ponyowe, dan kaki-kaki gunung sekitarnya pun beralih fungsi menjadi kebun sawit. Selain terjadi alih fungsi lahan, perubahan budaya tanam juga mengakibatkan mulai berkurangnya tanaman endemik lokal yang sebenarnya memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Dampaknya tidak hanya pada tanah, tapi juga merambah ke Sungai Ponyowe, yang mengaliri tiga dusun: Tumbuk, Kompas, dan Pisang, tak lagi jernih dan melimpah. Padahal sungai ini adalah sumber kehidupan, irigasi sawah, hingga tempat upacara adat syukur panen. Debit air Sungai Ponyowe makin menurun dan pasokan air bersih semakin berkurang. Abrasi sungai pun memperbesar potensi terjadinya bencana longsor.
Masyarakat Adat Jongkakng Bonua Tumo’k yang menghuni wilayah ini tidak tinggal diam. Mereka merancang dan melaksanakan inisiatif untuk memulihkan wilayah kritis di bantaran Sungai Ponyowe. Strateginya dengan menghidupkan kembali tradisi menanam tanaman lokal di sepanjang sungai. Tradisi yang dahulu menjadi kekuatan ekonomi dan budaya masyarakat, namun terkikis oleh serbuan monokultur. Inisiatif dijalankan secara gotong royong, terutama oleh tiga kelompok perempuan: Kelompok Nyak Pongodi dari Dusun Pisang, Kelompok Odoh Narap dari Dusun Kompas, dan Kelompok Dori’k Ponyowe dari Dusun Tumbuk.
Kegiatan dimulai dengan konsolidasi, pembagian tugas, dan persiapan pembibitan. BUMDes RESPICK SENTOSA berperan menyediakan bibit tanaman endemik lokal seperti durian, pekawai, enau, jonger, asam, tampui, dan bambu. Total ada 500 bibit yang disiapkan dan dirawat di lokasi pembibitan Dusun Pisang. Perawatan dilakukan secara bergiliran oleh ibu-ibu kelompok perempuan. Kesepakatan pun dibangun melalui briefing yang melibatkan kepala dusun, kepala adat, tokoh masyarakat, dan Temenggung Jongkakng Bonua Tumo’k.
Penanaman dilaksanakan pada awal Mei 2025 dengan pembagian lokasi di tiga dusun dengan total wilayah penanaman seluas ±2 hektar. Selain 3 kelompok perempuan, penanaman juga melibatkan 3 kepala wilayah, 3 kepala adat dari 3 dusun dimana Sungai Ponyowe berada. Di Dusun Pisang, penanaman dilakukan di area area bantaran Sungai Ponyowe yang rawan abrasi, fokus pada tanaman seperti durian dan tampui. Di Dusun Tumbuk, penanaman dilakukan di hulu bendungan Pamsimas yang mengairi ketiga dusun, sekaligus daerah tebing sungai yang telah mengalami longsor akibat alih fungsi lahan. Sementara itu, di Dusun Kompas, meskipun areanya tidak luas, warga tetap antusias menanam di bantaran sungai yang tersisa.
Pemilihan tanaman lokal bukan hanya untuk alasan ekologi, tetapi juga karena nilai ekonomi dan budaya yang melekat padanya. Enau yang dulu banyak disadap kini hampir punah. Rebung bambu yang dulunya hanya jadi sayuran kini punya nilai pasar tinggi, mencapai Rp 100.000 per kilogram jika diolah menjadi rebung kering. Jonger yang dipakai untuk bahan bangunan juga kembali dikenali manfaat ekonominya. Masyarakat menyadari bahwa dengan menanam jenis-jenis lokal, mereka tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga menciptakan sumber penghidupan baru yang sesuai dengan alamnya.
Ketua kelompok perempuan Odoh Narap dari Dusun Kompas, Ibu Martina Titing, menuturkan harapannya, “Tadinya potensi rebung hanya untuk dimasak, tapi sekarang kami tahu nilainya. Bibit bambu ini kami tanam agar nanti bahan bakunya tersedia. Kami ingin menjual rebung kering dan produk olahan lainnya.”
Di sisi lain, inisiatif ini juga menggugah ingatan kolektif masyarakat. Temenggung Antonius Ago yang berusia 75 tahun mengenang masa kecilnya saat Sungai Ponyowe masih dalam, jernih, dan penuh ikan. Inilah salah satu pemicu yang membuat beliau begitu semangat terlibat dalam kegiatan. Ia ingin cucu-cucunya bisa menikmati sungai yang sama seperti yang ia kenal dulu.
– “ Dulu…Sungai Ponyowe ini di beberapa titiknya ada yang kedalamannya lebih dari 2 meter, karena anak-anak sering berenang dan meloncat dari dahan pohon-pohon di pinggirnya, masih banyak batu-batu besar serta berbagai jenis ikan untuk lauk sehari-hari. Almarhum bapak saya juga sering menyadap enau untuk dijadikan gula, sekarang tidak ada lagi orang yang terampil membuat gula dari enau dan akhirnya hanya dimanfaatkan umbut (tunas muda di bagian pucuknya untuk dijadikan sayur)”. Antonius Ago, Temenggung Jongkakng Bonua Tumo’k yamg berusia 75 tahun dari Kampung Pisang)
Inisiatif pemulihan bantaran Sungai Ponyowe di Desa Pisang memberikan pelajaran berharga bagi seluruh komunitas. Masyarakat Adat mulai menyadari bahwa menjaga alam tidak hanya menjadi tugas satu kelompok tertentu, tetapi dapat dilakukan bersama oleh siapa saja. Kolaborasi antara kepala desa, kepala wilayah, kepala adat, dan kelompok perempuan terbukti menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini. Kesadaran untuk mengembangkan kembali bibit tanaman lokal juga mulai tumbuh, karena jenis-jenis lokal terbukti lebih adaptif terhadap kondisi alam setempat dan memiliki tingkat keberhasilan tanam yang tinggi.
Pelestarian tanaman lokal melalui kegiatan restorasi ini tidak hanya berupaya mengembalikan kualitas air bersih bagi tiga dusun terdampak dan menjaga desa dari bencana seluas 21.507 hektar, tetapi juga berpotensi membuka jalan bagi pengembangan sumber penghidupan baru berbasis tanaman lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.




