TOTAL DANA 2025 - 2027

$500,000

Re-Granting - General Support

TOTAL DANA AGUSTUS 2023 - JULI 2024

$250,000

Institutional Support

TOTAL DANA OKTOBER 2024 - SEPTEMBER 2029

$5,000,000

General Support

TOTAL DUKUNGAN DANA $800,000

Agustus 2023 - September 2024 ( $300,000 )
Februari 2025 - Juli 2026 ( $500,000 )

Pendanaan Langsung ( Re-Granting )

TOTAL DUKUNGAN DANA 2023 - 2027

$1,050,000

Re-Granting - General Support

TOTAL DANA 2024 - 2026

$2,500,000

Re-Granting - Endowment
NF25_INF_DATA_KOM_S3054W1-SPW-GORONTALO_KOMUNITAS-07
Sumber Foto : Studio Pangan Warga (SPW)
Program

Penambahan fasilitas pasar Ambuwa dan penguatan kapasitas Ibu-ibu Studio Pangan Warga dalam mewujudkan kesadaran konsumsi pangan lokal yang sehat dan aman

Organisasi Penanggung Jawab
WALHI
Lokasi
Gorontalo
Pendanaan Langsung
Rp99,985,000
Periode
Mulai
02/12/2024
Berakhir
30/05/2025
Target
4. Model produksi, distribusi, dan konsumsi yang berkeadilan dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip Masyarakat Adat, Petani, Nelayan, Perempuan, dan Generasi Muda, 5. Pusat-Pusat Pendidikan Rakyat
Status
Selesai

Bagikan ke :

Facebook
WhatsApp
X

Gerakan Pangan Lokal Gorontalo dan Kepercayaan Diri Para Ibu Huntu Selatan

Pasar Ambuwa di Desa Huntu Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo sudah dirintis sejak tahun 2018 oleh Huntu Art Distrik (Hartdisk), yakni komunitas lintas bidang yang bergerak di seni rupa, pertunjukan, sastra, lingkungan, budaya, dan pangan lokal. Pasar Ambuwa adalah pasar seni dan kuliner khas yang digelar dua kali sebulan setiap akhir pekan.

Di Pasar Ambuwa, transaksi dilakukan dengan bu’awu (tempurung kelapa sebagai alat tukar), dan semua penjualnya adalah ibu rumah tangga dari desa setempat. Menu yang disajikan pun sepenuhnya berbasis pangan lokal, seperti ilabulo, kolombengi, nasi jagung, sayur daun kelor, hingga kudapan tradisional. Bahan bakunya diperoleh dari pasar setempat atau bahkan didapat dari kebun sendiri.

Kata Ambuwa sendiri berasal dari “Am” dan “Buwa” yang dalam bahasa Gorontalo berarti “perempuan”. Nama ini menggambarkan dengan tepat semangat pasar: perempuan sebagai penggerak utama dalam merawat pangan lokal. Ada bagian tak terpisahkan dari Pasar Ambuwa, yakni Studio Pangan Warga (SPW), yang menjadi ruang bagi ibu-ibu untuk berbagi pengalaman dan belajar mengenai pangan lokal yang sehat, aman, dan ramah lingkungan, sebagai dasar dalam menghasilkan olahan pangan yang akan dijajakan di Pasar Ambuwa.

Para ibu yang tergabung dalam SPW menghadapi kendala. Seperti terbatasnya pengetahuan dan pemahaman akan pangan lokal, merasa minder ketika berinteraksi dengan pembeli, dan sebagian besar belum terbiasa berbicara di ruang publik. Menghadapi kendala ini, SPW kemudian berinisiatif melakukan rangkaian kegiatan penguatan kapasitas dan penambahan infrastruktur Pasar Ambuwa.

Lebih dari delapan kali kelas belajar bersama Studio Pangan Warga dilakukan, baik di Hartdisk maupun secara bergilir di rumah ibu-ibu penjual. Materi yang diberikan mencakup pemahaman tentang pangan lokal sehat, teknik pengolahan tanpa bahan pengawet, pengelolaan sampah rumah tangga, manajemen keuangan keluarga, serta literasi digital sederhana. Pendekatan yang diusung memprioritaskan pengalaman sehari-hari para ibu sebagai sumber utama pembelajaran.

Peningkatan pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar ini menjadi titik balik penting dalam membangun kepercayaan diri para ibu penjual. Sebelumnya, banyak dari mereka merasa ragu saat harus menjelaskan olahan pangan yang dijual. Namun kini, mereka lebih berani berdialog dengan pengunjung, menjelaskan kandungan dan proses pengolahan produk, serta memperluas variasi menu sesuai dengan musim dan ketersediaan bahan lokal. Di sinilah ibu-ibu Huntu Selatan mulai menempati posisi baru ,  semula hanya menjual makanan, kini juga dapat menyampaikan pengetahuan di balik pangan lokal terutama dari sisi kandungan gizi, kemasan yang ramah lingkungan, menyajikan secara tradisional dan menarik.

Aspek ekonomi juga menunjukkan tren positif untuk Pasar Ambuwa. Pendapatan mulai meningkat, jumlah penjual bertambah, dan menu semakin bervariasi. Meskipun fluktuasi harga pangan lokal sempat menjadi tantangan, upaya adaptif seperti menjaga stok bahan dan mencari alternatif untuk menghadapi perubahan harga mulai diterapkan sebagai strategi jangka panjang.

Renovasi panggung Bandayo Pomata di areal Pasar Ambuwa, juga menjadi bagian penting dari transformasi. Ruang tersebut kini dapat digunakan sebagai pusat kegiatan publik dan dapat menampung lebih banyak orang. Dengan ruang yang lebih nyaman dan luas, kegiatan pasar dapat diselingi dengan pertunjukan seni, diskusi publik, atau pelatihan terbuka, sehingga diharapkan dapat menarik lebih banyak pengunjung.

SPW juga menggandeng seniman lokal Gorontalo anggota Huntu Art Distrik untuk menghasilkan karya-karya kampanye lingkungan kreatif yang dipasang di sekitar pasar untuk mengedukasi pengunjung. Pengadaan peralatan makan dan minum ramah lingkungan yang dapat digunakan ulang juga menegaskan komitmen Pasar Ambuwa terhadap nilai dan praktik ekologis. Program ini berdampak secara sosial untuk terlibat dalam gerakan pangan lokal Gorontalo pada 392 perempuan, 392 laki-laki, dan 261 generasi muda di Desa Huntu Selatan.

Dalam kelas belajar bersama Studio Pangan Warga muncul ide-ide bernas dari para ibu penjual untuk mendukung usaha mereka di Pasar Ambuwa, seperti menu-menu baru, membuat dapur mini agar bisa tetap produktif meskipun hujan, arisan bergilir untuk menabung dan memudahkan akses modal, hingga pembentukan koperasi bahan pangan. Ini menunjukkan bahwa SPW telah melampaui fungsi awalnya dan berhasil mendorong keterlibatan ibu-ibu Huntu Selatan dalam gerakan pangan lokal Gorontalo. Ia juga berkembang menjadi ruang kolaboratif untuk tumbuh dan saling menguatkan.

Scroll to Top