
Program
Menguatkan Partisipasi Kolektif Perempuan Tani dalam Menjaga Hulu Sungai Paguyaman untuk Mewujudkan Kedaulatan Rakyat terhadap Ruang dan Sumber Penghidupannya
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Kolektif Perempuan Tani Bontula Lestari Gorontalo Merehabilitasi Lahan Kritis dan Menghidupkan Ruang Belajar Masyarakat
Desa Bontula merupakan desa pemekaran tahun 2010 yang berbatasan langsung dengan Suaka Margatwa Nantu di Provinsi Gorontalo, perlindungan kawasannya sejak semula tidak melibatkan warga Bontula dan sangat represif dengan melibatkan aparat keamanan terutama terkait pembalakan liar hingga saat ini. Namun Masyarakat Dusun Bontula memiliki sejarah mampu menghentikan pembalakan liar di SM Nantu dan menjaga kawasan ini pada tahun 2000an, walaupun beberapa oknum warga dulu ada juga yang menjual hasil pembalakan liar. Warga Dusun Bontula bermata pencaharian sebagai petani, yang seperti pada umumnya di Gorontalo, masih bergantung pada pertanian monokultur jagung hibrida, pola penanaman tebang bakar, dan penanaman di lahan dengan tingkat kemiringan di atas 15 persen. Hal ini memperparah degradasi lingkungan yang berpotensi longsor dan tingkat kekritisan lahan mencapai 289 hektare yang tidak lagi ditanami jagung. Kondisi ini turut memperparah kemiskinan yang dihadapi oleh petani karena jagung yang ditanam adalah jagung hibrida untuk industri pakan ternak sehingga daya jualnya murah, ditambah monopoli pasar oleh tengkulak.
Modal sosial Dusun Bontula untuk menghentikan hal yang merusak lingkungan menjadi solusi yang dipikirkan oleh Kolektif Perempuan Tani Bontula Lestari sebagai organisasi rakyat yang tumbuh di Dusun Bontula. Mereka berpandangan dibutuhkan ruang berkumpul dan belajar di Dusun ini sehingga akar persoalan yang dihadapi perempuan petani dan warga Dusun Bontula dengan wilayah yang berada di Hulu Sungai Paguyaman, sungai yang melintasi 4 kabupaten di Gorontalo ini dapat lambat laun teratasi. Pendidikan bagi anak-anak Bontula tentu saja menjadi bagian dari manfaat ruang belajar ini sehingga akses jalan ke Desa tidak lagi menjadi kendala bagi mereka untuk bersekolah. Mereka melaksanakan program penanaman tanaman tahunan produktif dan membangun sebuah bangunan sederhana sebagai pusat berkegiatan masyarakat dengan pendanaan langsung Dana Nusantara. Mereka didampingi Inhides dan juga WALHI Gorontalo untuk memastikan rencana kegiatan terselenggara.
Inisiatif awal berupa pemetaan lahan kritis yang direhabilitasi sebanyak 10,79 hektare dilakukan secara kolektif kemudian dilakukan penanaman pala, kakao, duren montong bersama-sama. Sisanya secara mandiri bibit tanaman ini dapat keseluruhan sebanyak 800 bibit ditanam hingga mencapai seluas 150 hektare. Program ini berdampak pada kurang lebih 50% lahan kritis di wilayah dusun akhirnya bisa direhabilitasi dengan penanaman tanaman tahunan produktif ini dan diperkirakan berdampak pada pemulihan wilayah Kecamatan Asparaga. Proses rehabilitasi ini terjaga keberlanjutannya juga karena terdapat pusat pembibitan bibit tanaman tahunan yang dibuat oleh kolektif dalam program ini. Tanaman tahunan yang dipilih selain dengan mempertimbangkan fungsi ekologisnya juga mempertimbangkan kebutuhan pertanian masyarakat dusun. “Pala itu nilai ekonominya tinggi dan bisa menjadi pelindung tanah–terutama yang di lereng–daripada hanya ditanami jagung terus, kan tanah bisa jadi longsor, bisa jadi tandus. Kalau ditanami tanaman tahunan, sembari menunggu tanaman jagung atau cabai bisa, karena daunnya tidak terlalu lebar,” ujar Samiya Suraji, Koordinator Kolektif Perempuan Tani Bontula Lestari. Dari penanaman ini menyimpan nilai ekonomi 435 juta dari pala dan kakao ketika panen per tahun setelah 3 – 5 tahun lagi.
Selain itu program ini juga berhasil membangun pusat pendidikan yang diberi nama “Banthayo Pendidikan Rakyat”. Kata “banthayo” diambil dari bahasa Gorontalo yang berarti ‘balai/pondok’. Pondok ini diintegrasikan dengan kolam ikan, ladang sayuran, pusat pembibitan, lantai penjemuran hasil panen yang sebelumnya memang telah ada, juga sebagai gudang penyimpanan sarana pertanian. Area ini akhirnya bisa menjadi pusat berkegiatan kolektif dan masyarakat dusun. Kata ‘pendidikan rakyat’ artinya luas, karena pendidikan tidak semata proses belajar seperti dalam kelas-kelas di sekolah, tetapi juga semua aktivitas sehari-hari mengandung hal yang dapat dijadikan pembelajaran. Bantayo dalam hal ini dapat menjadi wadah untuk itu, karena di tempat itu kami dapat berkumpul, memanen sayur dan ikan untuk makan, pembibitan tanaman tahunan dan menjemur hasil panen,” kata Samiya Suraji. Program ini juga berdampak menyimpan nilai ekonomi dari 3000 bibit ikan nila, emas, dan lele per satu kali panen dapat menghasilkan 32 juta rupiah dari penjualan ikan tersebut.




