Program
Pusat Pendidikan Rakyat “EDUCAMP”(Membangun Kesadaran Orang Muda di wilayah urban dalam Gerakan Sosial: Peduli Alam, Peduli Tanah, Peduli Adat)
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Pendidikan Kritis untuk Komunitas Anak Muda Hobi Gunung (KAMHG) untuk Gerakan Perlindungan Adat dan Wilayah Adat di Sulawesi Utara
Komunitas Anak Muda Hobi Gunung (KAMHG) terbentuk dari keresahan anak muda terhadap kondisi sosial di Sulawesi Utara, khususnya di Kota Manado. Berawal dari pertemuan anak muda dari berbagai daerah pada awal 2023 yang terhubung melalui platform media sosial dan disatukan oleh minat mendaki gunung serta kecintaan pada alam. Komunitas ini hadir sebagai reaksi atas minimnya keterlibatan sebagian anak muda dalam berbagai permasalahan sosial seperti tingginya angka kemiskinan, pengangguran, masalah pengelolaan sampah di wilayah pesisir, perampasan ruang hidup petani dan nelayan, hingga perusakan wilayah dan situs Masyarakat Adat akibat kebijakan negara.
Pada akhir 2023, KAMHG secara resmi dideklarasikan dan sejak saat itu aktif melibatkan diri dalam gerakan sosial dan advokasi. KAMHG bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Utara dan jaringan lainnya terlibat dalam kerja bersama petani di Kalasey Dua, di Kelelondey Langowan, diskusi kritis, serta aksi-aksi untuk menuntut pengakuan dan perlindungan Masyarakat Adat. Ke depan, KAMHG juga berkomitmen untuk memperluas kerja advokasi, termasuk kerja bersama nelayan yang terancam proyek reklamasi di Kelurahan Bitung Karangria, Tuminting, Manado, sembari terus memperkuat kapasitas pengetahuan dan perjuangan hak-hak anggotanya.
Untuk mendukung agenda tersebut maka KAMHG menginisiasi adanya program Pendidikan Rakyat “Educamp” yang difasilitasi PW AMAN Sulawesi Utara bertujuan untuk membangun kesadaran kritis generasi muda di wilayah urban terhadap pentingnya keterlibatan anak muda dalam gerakan Masyarakat Adat, gerakan sosial, perjuangan petani dan perjuangan kelompok marjinal yang pada akhirnya akan semakin memperkuat gerakan di Sulawesi Utara. Hal ini termasuk peningkatan kapasitas dalam melakukan pemetaan partisipatif di wilayah adat. Dampaknya, terjadi peningkatan pemahaman anggota KAMHG juga berdampak sebanyak 300 orang anggota jaringan yang bekerja bersama KAMHG mengenai posisi dan peran generasi muda dalam melindungi hak-hak Masyarakat Adat termasuk melindungi situs-situs adat seperti waruga. Selain itu, anggota komunitas juga menyadari bahwa perlunya memperluas gerakan perlindungan wilayah adat termasuk tempat ritual yang sebelumnya mereka tidak pahami dan hanya fokus naik gunung dan bersih-bersih lingkungan menjadi lebih terarah.




