TOTAL DANA 2023 - 2027

$750,000

Re-Granting - General Support - Institutional Support

TOTAL DANA AGUSTUS 2023 - JULI 2024

$250,000

Institutional Support

TOTAL DANA OKTOBER 2024 - SEPTEMBER 2029

$5,000,000

General Support

TOTAL DUKUNGAN DANA $800,000

Agustus 2023 - September 2024 ( $300,000 )
Februari 2025 - Juli 2026 ( $500,000 )

Pendanaan Langsung ( Re-Granting )

TOTAL DUKUNGAN DANA 2023 - 2027

$1,050,000

Re-Granting - General Support

TOTAL DANA 2024 - 2026

$2,500,000

Re-Granting - Endowment
NF25_INF_DATA_KOM_S3A017-PRAING-LAITAKU_REHABILITASI-RESTORASI-07
Sumber Foto : Komunitas Masyarakat Adat Praing Laitaku
Program

Peningkatan kapasitas dalam penguatan ekonomi rumah tangga masyarakat adat Praing Laitaku.

Organisasi Penanggung Jawab
AMAN
Lokasi
Nusa Tenggara Timur
Pendanaan Langsung
Rp93,700,000
Periode
Mulai
01/01/2025
Berakhir
31/05/2025
Target
4. Model produksi, distribusi, dan konsumsi yang berkeadilan dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip Masyarakat Adat, Petani, Nelayan, Perempuan, dan Generasi Muda
Status
Selesai

Bagikan ke :

Facebook
WhatsApp
X

Penguatan Sumber Penghidupan Masyarakat Adat Praing Laitaku melalui Pertanian, Konservasi, dan Inovasi Tenun

Masyarakat Adat Praing Laitaku sebagian besar memanfaatkan potensi yang ada di wilayah adatnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Mulai dari hasil pertanian, pelihara ternak, hingga membuat kain tenun ikat Sumba yang berbahan baku kapas atau daun gewang (sejenis daun palem), dan pewarna alami dari akar mengkudu, daun nila, lumpur, daun dan kulit loba yang bisa ditemukan di hutan di wilayah adatnya. Namun, kerap kali Masyarakat Adat Praing Laitaku yang berada di Desa Maubokul, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur ini mengalami  beberapa persoalan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber penghidupan yang ada di wilayah adatnya untuk mengatasi kebutuhan ekonomi rumah tangga mereka. 

Diantaranya adalah kekurangan benih bibit tanaman keras yang memiliki nilai ekonomi; kurangnya pemahaman dalam pengolahan budidaya dan perawatan tanaman pertanian; serta secara khusus perempuan dalam komunitas masih kurangnya keterampilan dalam berinovasi dalam mengolah kain dan sarung tenun ikat menjadi suatu model pakaian yang bernilai ekonomi tinggi dipasaran. Juga perlu diimbangi dengan hasil hutan lainnya yang bernilai ekonomi jangka panjang dan menanam jagung lokal sehingga membantu ekonomi rumah tangga sehari-hari. 

Masyarakat Adat Praing Laitaku berinisiatif melakukan penanaman tanaman jangka panjang sejumlah 1.500 pohon  yang terdiri dari 1.000 pohon bibit mete, 300 bibit pohon gmelina, dan 200 bibit pohon mahoni. Dalam jangka panjang pohon yang ditanam tersebut akan memberikan nilai ekonomi dari hasil panen pohon mete. Selain berdampak secara ekonomi, penanaman bibit pohon tersebut juga berdampak secara ekologi. Dalam hal ini karena penanaman bibit pohon tersebut dilakukan di area mata air yang bertujuan untuk menjaga kualitas sumber mata air demi stabilitas pasokan air di wilayah adat Praing Laitaku.

Selain tanaman keras, Masyarakat Adat Praing Laitaku juga melakukan penanaman bibit jagung lokal sumba sebanyak 150 kg bibit di lahan seluas 3 hektar. Hasil yang dicapai diperkirakan sebanyak ± 6 ton jagung lokal. Dari hasil panen jagung lokal tersebut dibagi menjadi tiga peruntukan, diantaranya adalah sebagian besar untuk pemenuhan pangan pokok sehari-hari. Kedua, sebagian dijual untuk memperoleh pendapatan tunai, dan ketiga sebagian lainnya disimpan untuk digunakan sebagai bibit jagung tahun berikutnya.

Tidak berhenti disitu, dari hasil penjualan panen jagung yang pertama dihasilkan. Masyarakat Adat membangun peternakan dengan membeli bibit babi, ayam dan bebek sebagai pendapatan jangka panjang. Serta terdapat anggota yang kemudian menggunakan hasil penjualan panen untuk membayar biaya sekolah anak-anak anggota Masyarakat Adat Praing Laitaku.

Demi mendapat hasil panen yang berkualitas, Masyarakat Adat Praing Laitaku melaksanakan pendidikan teknis dalam hal produksi pupuk organik (kompos), serta pelatihan dalam perawatan tanaman. Hal ini selain bertujuan untuk menjaga unsur hara tanah, juga untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil panen. Hasil tersebut berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi Masyarakat Adat tanpa menimbulkan kerusakan terhadap kualitas tanah.

Pendidikan lain juga dilakukan yang secara khusus menyasar kelompok perempuan. Pendidikan teknis dalam menjahit dan menyulam sarung sambuli bagi Perempuan Adat dan Pemuda Adat Praing Laitaku. Hal ini merupakan satu langkah untuk dapat menciptakan inovasi produk tanpa meninggalkan pengetahuan lokal mereka. Masyarakat Adat Praing Laitaku tetap menggunakan bahan baku dan cara yang diyakini secara turun temurun. Inovasi dilakukan dalam pembuatan produk hasil turunan dari kain tenun yang sudah diproduksi. Hal ini meningkatkan keterampilan teknis yang berpengaruh terhadap peningkatan nilai jual kain tenun dari Praing Laitaku. Inisiatif ini berdampak langsung bagi keseluruhan anggota Masyarakat Adat Praing Laitaku sebanyak 1884 orang.

Scroll to Top