Program
MENDORONG KEMANDIRIAN EKONOMI KOMUNITAS MELALUI USAHA PETERNAKAN BABI DI KOMUNITAS ADAT TONYOI BERAMBAI DESA TELUK BINGKAI
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
MASYARAKAT ADAT TONYOOI BERAMBAI KALIMANTAN TIMUR MEMBANGUN EKONOMI KOLEKTIF PETERNAKAN BABI
Perluasan wilayah untuk industri ekstraktif seperti perkebunan sawit maupun hutan tanaman industri (HTI) lainnya di Kalimantan Timur telah mengancam wilayah-wilayah yang ditinggali Masyarakat Adat. Ancaman itu berupa perampasan ruang hidup Masyarakat Adat oleh perusahaan dengan seizin pemerintah. Kemunduran tidak hanya terjadi pada kualitas tanah dan lingkungan, tetapi juga berimbas pada budaya serta tradisi Masyarakat Adat. Kondisi seperti itu juga dialami oleh Masyarakat Adat Tonyooi Berambai yang bertempat di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Hutan yang telah menjadi tempat tinggal sekaligus identitas budaya mereka telah mengalami degradasi dan terancam terampas dari hak kepemilikan kolektif mereka.
Masyarakat Adat Tonyooi Berambai sedari lama telah memperjuangkan hak-hak kolektif mereka atas wilayah adat. Namun, perjuangan itu juga membutuhkan modal materi yang tidak sedikit. Persoalan ekonomi merupakan hal pokok yang menyokong perjuangan kolektif mereka maupun kebutuhan keluarga. Berdasarkan permasalahan tersebut Masyarakat Adat Tonyooi Berambai berinisiatif membangun kedaulatan ekonomi bagi komunitas mereka. Inisiatif yang dipilih ialah beternak babi. Dalam inisiatif tersebut anggota perempuan dilibatkan untuk mengurus ternak.
Inisiatif ternak babi tersebut berimplikasi pada wilayah seluas 17.154 hektare dengan dampak sosial berjumlah 1.000 jiwa. Rincian dampak sosial meliputi 396 laki-laki, 354 perempuan, dan 125 generasi muda. Inisiatif ternak 24 ekor babi ini juga menyimpan potensi ekonomi dari penjualan babi hidup dan daging babi. Dari 24 ekor babi itu bisa berkembang menjadi 480-576 ekor setahun. Babi bisa melahirkan 2 kali setahun dengan jumlah anakan rata-rata 10-12 ekor. Dari penjualan babi hidup, inisiatif ini menyimpan potensi ekonomi sebesar Rp2.400.000.000-Rp2.880.000.000 per tahun, dengan pertimbangan harga lokal babi dewasa Rp5.000.000/ekor. Sementara dari penjualan daging babi, inisiatif ini menyimpan potensi ekonomi sebesar Rp2.880.000.000-Rp3.456.000.000 per tahun. Harga daging babi di Kalimantan Timur berkisar Rp100.000-Rp120.000/kg.
