Program
Penguatan Gerakan Reforma Agraria dan Ekonomi Kreatif Perempuan Tani FUTASI di Tengah Ancaman Penggusuran PTPN III
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Petani SEPASI Membangun Kedaulatan Ekonomi Kerakyatan
Sejak 2004, para petani yang tergabung dalam Serikat Petani Sejahtera Indonesia (SEPASI) menempati dan memanfaatkan lahan bekas Hak Guna Usaha (HGU) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III Kebun Bangun I sebagai pemukiman dan lahan pertanian. Tanah yang digarap seluas 125,9 hektare. Status tanah itu diperkuat oleh surat (Pelaksana Tugas/Plt) Walikota Siantar 2003-2004 Kurnia Rajasyah Saragih yang merekomendasikan supaya HGU PTPN III tidak diperpanjang lagi. Namun situasi berubah setelah perpindahan kekuasaan dan kebijakan pembangunan di Kota Siantar. Dimulai tahun 2010 saat Pemerintah Kota (Pemkot) Siantar membangun jalan lingkar (ring road) luar kota yang melewati wilayah pertanian anggota SEPASI. Saat itu SEPASI tidak menolak pembangunan tersebut karena merasa pembangunan itu penting. Lalu tahun 2019, melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) Tol Siantar-Parapat dibangun dan sekali lagi proyek itu melewati lahan pertanian SEPASI. Situasi tersebut membuat PTPN III melirik kembali lahan yang sudah dimanfaatkan petani dan mulai memasang plang serta melarang masyarakat untuk mengelola tanah tersebut lagi. Puncaknya, tahun 2022 aparat keamanan diturunkan untuk menggusur para petani SEPASI dari lahan tersebut. Bentrok tak terhindarkan dan kerugian besar dialami masyarakat dengan hancurnya bangunan permukiman, tanaman, serta hilangnya pendapatan ekonomi masyarakat.
Setelah sekian tahun berjuang untuk mempertahankan tanah dari ancaman perampasan terstruktur, pengurus SEPASI merasa penting untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggotanya melalui kegiatan di luar pertanian. Dengan konflik yang masih berlangsung, mereka merasa kesulitan meneruskan pekerjaan di sawah. Melalui keputusan bersama, mereka bersepakat untuk menciptakan pendapatan alternatif. Bentuknya antara lain budidaya kambing dan produksi kain ulos. Sementara itu, untuk mencukupi kebutuhan keluarga, para anggota memanfaatkan pekarangan masing-masing untuk menanam tanaman hortikultura, yakni bawang. Untuk menaungi usaha bersama itu mereka mendirikan koperasi produksi kreatif dan menjual produk-produk anggota ke pasaran lokal.
Dari budidaya ternak kambing, inisiatif yang dilaksanakan SEPASI menyimpan potensi ekonomi sebesar 96 juta rupiah per tahun. Hitungan itu didasarkan pada jumlah anakan kambing yang dihasilkan dari indukan per tahun. Harga yang dipakai berlaku di pasar lokal. Sementara usaha produksi kain ulos menyimpan potensi ekonomi sebesar Rp12 juta-Rp18 juta per tahun, dengan perhitungan ada 10-15 kain ulos yang bisa diproduksi dalam waktu sebulan. Harga pasaran lokal ditetapkan sebesar Rp100 ribu. Jadi total potensi ekonomi dari inisiatif SEPASI berkisar antara Rp108 juta-Rp114 juta per tahun. Terkait aspek sosial, inisiatif ini berdampak terhadap 2.583 jiwa. Rinciannya antara lain, 967 laki-laki, 971 perempuan, dan 645 generasi muda.




