TOTAL DANA 2023 - 2027

$750,000

Re-Granting - General Support - Institutional Support

TOTAL DANA AGUSTUS 2023 - JULI 2024

$250,000

Institutional Support

TOTAL DANA OKTOBER 2024 - SEPTEMBER 2029

$5,000,000

General Support

TOTAL DUKUNGAN DANA $800,000

Agustus 2023 - September 2024 ( $300,000 )
Februari 2025 - Juli 2026 ( $500,000 )

Pendanaan Langsung ( Re-Granting )

TOTAL DUKUNGAN DANA 2023 - 2027

$1,050,000

Re-Granting - General Support

TOTAL DANA 2024 - 2026

$2,500,000

Re-Granting - Endowment
Seloliman
Sumber Foto : Dana Nusantara
Program

Revitalisasi PLTMH Kali Maron dalam rangka pemberdayaan paguyuban kali maron (PKM) 

Organisasi Penanggung Jawab
WALHI
Lokasi
Jawa Timur
Pendanaan Langsung
Rp100,000,000
Periode
Mulai
01/01/2025
Berakhir
31/03/2025
Target
3. Rehabilitasi dan restorasi wilayah Masyarakat Adat, Petani, Nelayan, Perempuan, dan Generasi Muda
Status
Selesai

Bagikan ke :

Facebook
WhatsApp
X

Hutan, Air, dan Energi: Penguatan Pengelolaan PLTMH Kali Maron Mojokerto  

Masyarakat Dusun Janjing bersama PPLH Seloliman mulai menginisiasi pembangunan PLTMH sejak tahun 1993. Hal ini didasari atas kebutuhan masyarakat yang tidak mendapatkan aliran listrik dari PLN. Instalasi PLTMH kemudian berhasil dibangun melalui dukungan kedutaan Jerman berkapasitas 12 Kw  yang dimanfaatkan hingga tahun 2000. Namun dalam perjalanannya, listrik yang dihasilkan dianggap kurang memadai dalam memenuhi kebutuhan pasokan listrik masyarakat. Sehingga di tahun 2000, masyarakat kembali melakukan upgrade turbin melalui dukungan UNDP hingga meningkatkan kapasitas produksi listrik menjadi 25 Kw. Masyarakat dan PPLH Seloliman juga bersepakat untuk membentuk Paguyuban PLTMH Kalimaron sebagai organisasi yang memastikan keberlanjutan pengelolaan PLTMH. 

Dampaknya, sebanyak 71 kepala keluarga yang berada di Dusun Junjing dan sebagian dari masyarakat Dusun Sempur Desa Seloliman berhasil mendapatkan aliran listrik yang bisa digunakan selama 24 jam. PPLH Seloliman juga ikut mendapatkan manfaat karena sebagian besar pusat pendidikan dan usaha eduwisatanya berupa penginapan menggunakan sumber listrik dari PLTMH. Untuk pemeliharaan dan perbaikan turbin, Paguyuban PLTMH Kalimaron menerapkan biaya iuran bulanan bagi masyarakat pengguna listrik PLTMH sebesar Rp50 ribu – Rp60 ribu perbulan. Nilai ini dianggap lebih murah 25% dibandingkan penggunaan listrik dari PLN.

Untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, setelah dilakukan upgrade turbin, Paguyuban PLTMH Kalimaron menyadari bahwa terdapat kelebihan kapasitas listrik yang dihasilkan PLTMH yang tidak diserap oleh masyarakat sehingga Paguyuban PLTMH Kalimaron memutuskan untuk melakukan interkoneksi dengan PLN untuk menjual kelebihan listrik yang dihasilkan. Dari Penjualan tersebut, Paguyuban PLTMH Kalimaron memperoleh tambahan pendapatan organisasi sebesar Rp12 juta sampai Rp15 juta perbulan. Namun hal ini hanya berjalan selama 17 tahun (2003 sampai 2019). Tahun 2004 hingga sekarang, program interkoneksi tidak dilanjutkan oleh PLN sehingga masyarakat kehilangan sumber pendapatannya yang berdampak terhadap berkurangnya semangat pengurus dan anggota paguyuban dalam mengelola PLTMH. Disisi lain, debit air sebagai sumber listrik semakin kecil sehingga tidak mampu lagi menghasilkan listrik 25 Kw, dan turbin PLTMH telah mencapai batas masa pakai sehingga perlu dilakukan upgrade kembali.

Oleh karena itu dengan dukungan Dana Nusantara, Paguyuban PLTMH Kalimaron dengan dampingan PPLH Seloliman kembali menginisiasi pelaksanaan program revitalisasi perangkat turbin PLTMH Kalimaron. Hasilnya, sarana dan prasarana turbin termasuk perangkat turbin telah berhasil direvitalisasi yang berdampak terhadap kembalinya produksi listrik yang dihasilkan PLTMH optimal kembali menjadi 25 Kw. Selain itu, Paguyuban juga melakukan penguatan kelembagaan melalui restrukturisasi kelembagaan Paguyuban PLTMH Kalimaron dengan melibatkan anak muda sebagai pengelola PLTMH yang semakin memperkuat pengelolaan PLTMH Kalimaron termasuk memperkuat silaturahmi dengan kelompok petani pengguna air di hilir untuk menghindari konflik di musim kemarau. Untuk menjaga sumber air di hulu sungai yang menjadi penyangga PLTMH, seperti yang sering mereka lakukan selama dua dekade, masyarakat melakukan rehabilitasi lahan kritis yang kurang produktif di lahan seluas 25 hektare melalui penanaman alpukat, durian, pete, lengkeng, empon-empon, kacang saca inci dengan melibatkan 47 Kelompok Tani Hutan Agro Kendalisodo. Program ini menguatkan kelembagaan dan akses energi terbarukan berbasis komunitas sekaligus memastikan restorasi hutan dan air tetap berlangsung.

Scroll to Top