
Program
Inovasi Ekonomi Perempuan Adat dalam Optimalisasi Hasil Hutan Bukan Kayu (HBK) di Komunitas Adat Tarlawi
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Anyaman Bambu dan Tenun Perempuan Adat Tarlawi: Mengembangkan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan Tata Kelola BUMMA
Perempuan Adat Tarlawi di Nusa Tenggara Barat mengembangkan kegiatan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) sebagai bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan rumah tangga dan penguatan peran perempuan dalam Masyarakat Adat. Wilayah adat Tarlawi memiliki sumber daya alam yang melimpah terutama bambu, namun belum dikelola secara maksimal karena terbatasnya kapasitas dan sumber daya.
Para Perempuan Adat yang tergabung dalam Persatuan Perempuan Adat Tarlawi kemudian menyusun dan menjalankan pelatihan peningkatan keterampilan mengolah bambu dan pengembangan tenun serta membangun fasilitas produksi bambu sebagai langkah awal untuk mengelola HHBK di wilayah adat secara lebih terarah.
Kegiatan diawali dengan musyawarah adat. Dalam forum tersebut, mereka menyepakati pembangunan rumah produksi yang dapat digunakan bersama oleh Perempuan Adat, Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA), dan sekolah adat. Sebagai bagian penguatan tata kelola usaha kolektif, musyawarah juga menyepakati bahwa seluruh Perempuan Adat Tarlawi adalah sekaligus merupakan anggota BUMMA Sagele Wawo.
Pembangunan rumah produksi dan gerai buku dilakukan sebagai bagian dari penyediaan infrastruktur pendukung pengolahan HHBK. Selama pembangunan, tantangan utama yang dihadapi adalah keterlambatan pembangunan rumah produksi akibat kondisi cuaca ekstrem. Hujan berkepanjangan menyebabkan jalur distribusi bambu dari hutan menjadi sulit dilalui. Pasokan bahan baku dan proses pembangunan pun jadi tertunda. Mereka beradaptasi untuk mengatasi kendala, seperti membangun tempat penyimpanan sementara yang lebih dekat dengan lokasi pembangunan, mengatur jadwal angkut berdasarkan cuaca, dan membuat alat bantu sederhana untuk memudahkan pengangkutan di jalur licin.
Setelah pembangunan selesai, pelatihan dilaksanakan dengan menghadirkan narasumber dari Dinas Koperasi UKM Kabupaten Bima dan Sekolah Tinggi Pariwisata Soromandi–Bima. Pelatihan diikuti oleh 30 Perempuan Adat Tarlawi dan fokus pada peningkatan kapasitas teknis dalam pengolahan bambu dan pengembangan tenun. Dari kegiatan ini, Perempuan Adat Tarlawi memperoleh pengetahuan baru dalam pengolahan HHBK, memahami teknik panen lestari, serta mulai menerapkan pendekatan usaha sederhana dalam tata kelola usaha.
Perempuan Adat Tarlawi sekarang memiliki pengetahuan baru. Pengetahuan lokal turun temurun terkait teknik dan motif anyaman bambu juga kembali dipraktikkan dalam konteks pengembangan produk. Selain itu, walaupun pemasaran utama adalah melalui BUMMA Sagele Wawo, kerja sama pemasaran juga mulai dijajaki termasuk dengan desa-desa wisata di Kabupaten Bima. Ini adalah peluang bagi produk HHBK karya Perempuan Adat Tarlawi untuk menjangkau pasar di luar Masyarakat Adat.
Peran dalam pengambilan keputusan juga menguat. Perempuan Adat Tarlawi yang sebelumnya hanya sendiri-sendiri melakukan kerja produksi, sekarang terlibat aktif dalam tata kelola BUMMA Sagele Wawo, termasuk menyusun strategi distribusi.
Ke depan, rumah produksi diharapkan terus menjadi simpul belajar dan ruang bersama bagi Perempuan Adat Tarlawi. Agar inisiatif yang sudah ditanam hari ini berbuah manis untuk penguatan peran Perempuan Adat, kesejahteraan keluarga, dan kelestarian Hutan Adat Tarlawi.




