
Program
Penguatan Ekonomi Komunitas Masyarakat Adat Bengkulu (Semende, Rejang dan Serawai) Melalui Pengolahan Kopi Bubuk
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Kemandirian Ekonomi Masyarakat Adat di Bengkulu dari Usaha Kolektif Pengolahan Kopi
Berpuluh tahun, Masyarakat Adat di Bengkulu yakni Semende Ulu Nasal, Kutai Teluk Dien, Anghang Sapat, dan Lubuk Kemban menggantungkan hidup pada hasil kebun kopi. Sebagian besar Masyarakat Adat di wilayah ini berprofesi sebagai petani kopi, karena memang secara geografis, empat wilayah adat tersebut sangat cocok untuk menghasilkan kopi berkualitas.
Namun potensi ini tidak berdampak signifikan terhadap kesejahteraan Masyarakat Adat. Pengelolaan pasca panen kopi yang masih sederhana dan skema penjualan yang bergantung pada tengkulak membuat harga jual kopi cenderung rendah. Situasi ini memengaruhi kesejahteraan Masyarakat Adat yang terlibat dalam rantai produksi kopi.
Untuk menanggapi kondisi ini, keempat komunitas masing-masing telah membentuk Kelompok Usaha Masyarakat Adat (KUMA) dan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA). Setelah kelembagaan usaha terbentuk, langkah berikutnya fokus pada penguatan sistem usaha kopi, termasuk pembangunan infrastruktur produksi, pengadaan peralatan pengolahan, serta penguatan kapasitas dalam mengelola kopi secara kolektif.
Masyarakat Adat bersama-sama mulai membangun tempat penjemuran kopi dan melengkapi peralatan pengolahan seperti mesin pulper, huller, alat sangrai, penggiling, dan pengemas. Seluruh proses dilakukan secara gotong royong, mulai dari musyawarah, pembangunan fisik, hingga pembelian peralatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Meski proses sempat terhambat cuaca dan kondisi geografis, pembangunan tetap berjalan sesuai rencana.
Selain infrastruktur, penguatan kapasitas menjadi bagian penting dari proses. Dengan pelatihan maka penjualan kopi tidak berhenti pada buah kopi atau biji kopi kering. Anggota kelompok usaha juga mulai memahami standar mutu kopi pasca panen, teknik pengemasan, dan proses produksi yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Masyarakat Adat sekarang mampu memproduksi kopi bubuk kemasan, yang sedang dipersiapkan untuk diluncurkan ke publik.
Sistem pengelolaan usaha ekonomi kolektif yang dibangun pun bersifat terintegrasi. Di tingkat komunitas, KUMA dan BUMMA bertanggung jawab memastikan ketersediaan bahan baku kopi petik merah dan kopi asalan dari kebun-kebun anggota. Sementara itu, Pusat Ekonomi Masyarakat Adat Bengkulu, sebuah badan usaha bersama yang didirikan oleh seluruh komunitas, mengambil peran dalam pengolahan lanjutan dan pemasaran kopi.
Skema ini dirancang agar beban pengelolaan tidak hanya ditanggung komunitas di hulu, membentuk jalur distribusi alternatif, dan secara bertahap akan mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak karena keterbatasan modal usaha.
Inisiatif dari Masyarakat Adat Semende Ulu Nasal, Kutai Teluk Dien, Anghang Sapat, dan Lubuk Kembang telah memperkuat kelembagaan ekonomi Masyarakat Adat melalui sistem usaha kolektif yang lebih terstruktur dan terencana. KUMA dan BUMMA dikelola secara partisipatif, termasuk Pemuda Adat dan Perempuan Adat yang terlibat langsung dalam berbagai tahapan produksi.
Dengan fasilitas pengolahan kopi yang mulai berfungsi, berikut pengorganisiran usaha kolektif dan pembagian peran yang jelas, Masyarakat Adat Semende Ulu Nasal, Kutai Teluk Dien, Anghang Sapat, dan Lubuk Kembang telah mantap membangun jalur menuju kemandirian ekonomi Masyarakat Adat.




