Program
Pengembangan Sekolah Lingkungan Aceh (SLA) sebagai Wadah Regenerasi Kader Lingkungan Hidup di Aceh
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Sekolah Lingkungan Aceh: Memperkuat Jaringan dan Kaderisasi Gerakan Lingkungan Hidup di Banda Aceh
Provinsi Aceh sedang menghadapi dampak krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan akibat deforestasi dan pencemaran lingkungan. Dampak dari kondisi tersebut, seperti banjir, krisis air bersih, dan terganggunya musim tanam, telah dirasakan langsung oleh masyarakat. Namun, di tengah persoalan tersebut, kesadaran generasi muda untuk terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan dan advokasi isu lingkungan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan, kawasan Ekosistem Leuser, dan wilayah pesisir barat Aceh justru tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh minimnya pendidikan lingkungan yang mendorong kesadaran dan pemikiran kritis serta terbatasnya akses informasi mengenai persoalan lingkungan.
Merespon hal tersebut, pada tahun 2019, generasi muda Aceh dengan dampingan WALHI Aceh bersama-sama membentuk Sekolah Lingkungan Aceh. Tujuannya adalah sebagai wadah kaderisasi lingkungan hidup sekaligus mendorong transformasi gerakan lingkungan menjadi gerakan sosial yang melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk memperkuat perlindungan dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Dalam perkembangannya, hingga tahun 2025, SLA telah mengukuhkan lima angkatan dengan jumlah alumni 108 orang dari berbagai profesi seperti tenaga pengajar, pengacara, mahasiswa dan aktivis. Alumni tersebut kemudian menjadi aktor kunci penentu pengambil kebijakan atau terlibat langsung dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah.
Untuk mengembangkan proses kaderisasi dan memperluas jaringan kader lingkungan maka SLA kembali mendorong inisiatif pengembangan dan penyempurnaan kurikulum serta melaksanakan proses belajar mengajar yang menjangkau lebih banyak generasi muda yang memiliki potensi dan kepedulian terhadap isu lingkungan secara berkelanjutan. Proses belajar mengajar dilakukan langsung ke sekolah, kampus dan juga menyasar generasi muda yang aktif di rumah ibadah di Banda Aceh.
Inisiatif kemudian berhasil mengembangkan kurikulum baru yang memuat seperti materi Fiqh (pengetahuan hukum agama Islam) Ekologi & Etika Lingkungan, kebijakan tata ruang, jurnalisme lingkungan dan mengkombinasikan keseimbangan kognitif dan afektif. Materi-materi ini dalam kurikulum sebelumnya tidak ada. Inisiatif ini juga berhasil melaksanakan 15 kali pendidikan yang melibatkan 588 generasi muda melalui seminar, podcast, Fokus Group Discussion (FGD) dan Go to Place Worship “Tafakkur Alam”. Adapun materi pendidikan meliputi; konservasi sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati, hak atas lingkungan, tambang dan bijak menyikapi tambang, strategi tata ruang untuk keberlanjutan lingkungan, politik dan gerakan lingkungan, jurnalisme lingkungan, pengenalan peta dasar dan praktik memaksimalkan peta digital, anggaran lingkungan, reforma agraria, kearifan lokal & lingkungan hidup, perspektif GEDSI (Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial) dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, pengetahuan kebencanaan & lingkungan, fiqih ekologi & etika lingkungan dan pelatihan ekoenzim.
Dampaknya, SLA berhasil memperluas jaringan baru terdiri dari organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi dan pemerintah yang semakin memperkuat pondasi dan akses bagi SLA dalam menjalankan berbagai program ke depan. SLA juga memiliki peningkatan pengetahuan mengenai manajemen organisasi yang meningkatkan tata kelola kelembagaan dalam pengambilan keputusan organisasi. Selain itu, generasi muda alumni pelatihan juga memiliki peningkatan pengetahuan dan kesadaran yang kritis untuk merespon permasalahan lingkungan di Aceh. Alumni SLA juga berhasil menerbitkan 8 tulisan dan video mengenai lingkungan.
