
Program
Rehabilitasi Wilayah adat dan Sosialisasi Pendidikan Adat di Komunitas Sigala-gala Lobu Nauli
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Pendidikan Adat dan Pemulihan Lingkungan untuk Generasi Muda dan Masa Depan Masyarakat Adat Sigala-Gala Lobu Nauli di Tapanuli Utara
Selama ini secara turun-temurun, Masyarakat Adat Sigala-Gala Lobu Nauli menggantungkan hidup dari aktivitas pertanian. Hasil pertanian yang mereka kelola antara lain jeruk, andaliman, kopi, cabe dan berbagai macam sayuran, nanas, singkong, dan jagung. Dari semua komoditas pertanian tersebut, Masyarakat Adat Sigala-Gala Lobu Nauli juga menggantungkan pendapatan dari menderes atau menyadap kemenyan. Namun, beroperasinya perkebunan monokultur eukaliptus telah memberikan dampak buruk bagi alam, juga pertanian masyarakat. Eukaliptus yang dikenal sebagai tanaman dengan kebutuhan air yang berlebihan telah menurunkan produktivitas tanaman pertanian masyarakat, menyebabkan keruhnya sumber mata air, hingga degradasi tanah. Bencana banjir bandang dan longsor semakin sering terjadi tiap tahun, termasuk bencana tahun 2026 di Sumatera Utara.
Untuk mengatasi permasalahan ekologi yang disebabkan oleh operasional perkebunan eukaliptus, Masyarakat Adat Sigala-Gala Lobu Nauli berinisiatif melakukan pendidikan adat dan rehabilitasi lingkungan. Kurikulum yang disampaikan dalam pendidikan adat berkaitan dengan adat istiadat Batak seperti bahasa dan aksara Batak serta ritus-ritus. Selain itu kurikulum juga memuat materi terkait permainan tradisional dan pelestarian lingkungan. Sementara itu, program rehabilitasi lingkungan dilakukan dengan cara menanam tanaman produksi. Mereka melakukan penanaman 1.000 kakao, 50 batang sampinur, 500 batang durian, dan 1.000 batang kopi pada Mei 2025. Inisiatif penanaman tanaman produksi tersebut selain untuk merehabilitasi lahan yang sudah tidak subur lagi karena eukaliptus juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menambah pendapatan. Mereka juga memiliki cara agar rehabilitasi ini tidak gagal. Hal ini dilakukan dengan melakukan pembibitan ulang pada musim hujan, serta menyiapkan sumber air cadangan (tandon/irigasisederhana) untuk penyiraman, Membuat rumah pembibitan yang lebih teduh dengan penutup plastik/paranet dan memperbaiki sistem kelembaban tanah, dan membangun sistem penyiraman kolektif sederhana menggunakan pipa kecil secara gotong royong penyiraman bergilir.
Dampak dari pelaksanaan kedua kegiatan tersebut ialah meningkatnya kesadaran dan pengetahuan Masyarakat Adat Sigala-Gala Lobu Nauli. Pertama, peningkatan terkait pelestarian bahasa, aksara, dan ritus sama halnya dengan mempertahankan identitas serta budaya mereka sebagai strategi untuk melawan ekspansi industri monokultur. Kedua, kesadaran masyarakat dan strategi terkait upaya-upaya kolektif untuk menjaga dan melindungi lingkungan juga meningkat. Kesadaran itu menyentuh perihal terkait keterlibatan manusia atau masyarakat pada upaya perlindungan alam termasuk generasi muda lebih antusias dan terlibat untuk mempraktekkan pengetahuan adatnya. Dari inisiatif tersebut dampak ekologisnya menyentuh wilayah seluas 1.436 hektare yang merupakan wilayah ulayat Masyarakat Adat Sigala-Gala Lobu Nauli.




