
Program
Peningkatan ekonomi masyarakat adat melalui pengembangan budidaya ternak ayam kampung ramah lingkungan
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Jaga Wilayah, Tradisi, dan Lingkungan: Ayam Kampung dari Komunitas Masyarakat Adat Kajang
Di Wilayah Adat Ammatowa Kajang, ayam kampung adalah bagian dari sistem adat dan penghormatan terhadap leluhur. Dalam banyak ritual di Kajang, keberadaan ayam kampung menjadi keharusan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan ayam kampung sering kali tidak dapat terpenuhi, karena ketersediaan terbatas. Kondisi ini mendorong munculnya inisiatif untuk mengembangkan peternakan ayam kampung secara kolektif di dalam Wilayah Adat Ammatowa Kajang.
Komunitas Masyarakat Adat Ammatowa Kajang saat ini sedang mempertahankan tanahnya dari ancaman HGU perusahaan yang akan segera diperpanjang. Inisiatif pengembangan ekonomi kolektif di wilayah adat diharapkan meningkatkan semangat seluruh warga dalam perjuangan bersama atas tanahnya.
Kelompok Usaha Masyarakat Adat – KUMA Ma’lopi-lopi dibentuk melalui musyawarah kampung yang melibatkan pemangku adat, perempuan, dan pemuda, sebagai bentuk usaha kolektif untuk pengelolaan potensi wilayah adat sekaligus menjawab kebutuhan komunitas Masyarakat Adat Kajang akan keberlanjutan ekonomi, budaya, dan lingkungan.
Sebelumnya, peternakan ayam kampung di Kajang dilakukan secara tradisional dengan sistem lepas liar di sekitar pekarangan rumah. Pola ini sering menimbulkan persoalan pencemaran tanah dan sumber air karena limbah kotoran ayam yang tidak terkelola dengan baik. Lebih jauh pencemaran juga akan membawa dampak buruk bagi kesehatan warga.
Dalam inisiatif KUMA Ma’lopi-lopi pola lepas liar ditinggalkan, ayam-ayam dipelihara dalam dua unit kandang yang dibangun secara gotong royong di wilayah adat seluas sekitar satu hektar.
Sebanyak 800 ekor ayam kampung lokal mulai dipelihara oleh kelompok secara kolektif, dengan sistem pengelolaan yang lebih ramah untuk lingkungan. Ayam kampung diberi pakan alami lokal, seperti jagung, dedak dari padi, dan daun-daunan yang tersedia cuma-cuma di wilayah adat, sebagai upaya untuk menekan biaya produksi dan memutus ketergantungan terhadap pakan pabrikan yang mahal dan tidak selalu tersedia.
Limbah kotoran ayam setelah dikeringkan diolah menjadi pupuk kandang, kemudian ditebar untuk menyuburkan tanaman di sekitar kandang dan pekarangan. Jika nanti pupuk kandang yang dihasilkan berlebih, dapat dijual untuk tambahan penghasilan. Pengolahan limbah ini juga sekaligus akan memastikan kebersihan lingkungan. Pendekatan-pendekatan yang digunakan tidak hanya meningkatkan kualitas ternak dan memperkuat kemandirian, tetapi juga upaya menjaga kelestarian wilayah adat.
Dalam pengelolaan kolektif, ruang partisipasi pun terbuka lebih luas, anggota Kelompok Usaha Masyarakat Adat – KUMA Ma’lopi-lopi yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, termasuk Pemuda Adat bersama-sama membangun kandang dan memelihara ayam kampung. Proses pembelajaran dilakukan secara informal, termasuk melalui media sosial dan diskusi bersama peternak lain. Dengan proses ini, terjadi peningkatan keterampilan dan pengetahuan anggota kelompok dalam mengelola peternakan ramah lingkungan. Semangat pun turut menyebar ke masyarakat di sekitar wilayah adat, yang mulai tertarik untuk mempelajari dan mengadopsi pendekatan serupa di komunitas masing-masing.
Lokasi ternak yang berada di dalam wilayah adat juga memudahkan akses Masyarakat Adat terhadap ayam kampung, terutama saat dibutuhkan untuk ritual-ritual adat. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar berkurang, dan stabilitas pasokan ayam kampung menjadi lebih terjamin. Selain itu, kelompok telah menjalin kerja sama dengan sebuah restoran di Kota Bulukumba, membuka jalur pemasaran yang lebih luas untuk menjual ayam kampung. Ke depan, sebagian hasil keuntungan juga akan disisihkan untuk memperkuat perjuangan Masyarakat Adat Kajang.
Meski begitu, sejumlah tantangan masih dihadapi. Harga bahan kandang dan pakan pabrikan yang tinggi awalnya jadi kendala, begitu pula dengan keterbatasan alat seperti mesin pembuat pakan. Kelompok pun berstrategi memecah kendala ini dengan membuat pakan dari bahan lokal, menyesuaikan anggaran, serta mengajukan usulan pelatihan lanjutan dan pengadaan alat pendukung.
Melalui ayam kampung, komunitas Masyarakat Adat Kajang menghubungkan ulang daya juang untuk hidup, dengan nilai adat dan kelestarian wilayah adat. Kelembagaan ekonomi komunitas melalui KUMA Ma’lopi-lopi juga menjadi ruang usaha kolektif yang sesuai dengan nilai dan ritme hidup Masyarakat Adat Kajang.




