Program
Peningkatan Ekonomi Masyarakat Adat dan Rehabilitasi Wilayah Adat melalui Sekolah Adat di Komunitas Masyarakat Adat Bodo Maroto, Sumba
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
KUMA dan Sekolah Adat: Jalan Masyarakat Adat Bodo Maroto Sumba Barat Menghidupkan Ekonomi dan Keberlanjutan Wilayah Adat
Masyarakat Adat Bodo Maroto merupakan salah satu pusat kebudayaan tua di Pulau Sumba tepatnya berada di Kampung Bodo Maroto Desa Kalembu Kuni Kecamatan Waikabubak Kabupaten Sumba Barat Nusa Tenggara Timur. Masyarakat Adat Bodo Maroto berjumlah 37 kepala keluarga dan menggantungkan hidupnya dari bertani, menenun kain adat, menganyam tikar dan membuat walaboku atau lumbung padi, bakul, kukusan pandan, dan lainnya yang berbahan hasil hutan non kayu.
Dalam pengolahan lahan pertanian, Masyarakat Adat Bodo Maroto memiliki ritual adat “Wulla Poddu” artinya bulan pahit. Disebut bulan pahit karena sepanjang bulan sejumlah larangan adat ditetapkan dan harus dipatuhi serta serangkaian ritual adat harus dijalankan. Intinya Wulla Poddu adalah bulan suci. Ritual adat yang dilakukan bertujuan untuk memohon berkat, sebagai sarana mengucap syukur, sarana untuk bercerita tentang asal usul nenek moyang, dan menggambarkan proses penciptaan manusia.
Sayangnya, hingga saat ini Masyarakat Adat Bodo Maroto masih menghadapi persoalan mengenai rendahnya kesejahteraan akibat keterbatasan kapasitas produksi dan pemasaran hasil kerajinan (tenun, anyaman, ukiran), serta ancaman pudarnya nilai budaya dan pengetahuan tradisi karena pengaruh luar dan belum optimalnya Sekolah Adat. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat melemahkan ekonomi, identitas budaya, dan keberlanjutan wilayah adat mereka.
Untuk menangani persoalan tersebut, maka Masyarakat Adat mendorong adanya inisiatif pembentukan Kelompok Usaha Masyarakat Adat (KUMA). Tujuannya adalah untuk memastikan adanya peningkatan produksi, peningkatan kualitas produk dan tenun maupun anyaman yang dihasilkan Perempuan Adat dan Pemuda Adat memiliki nilai sejarah atau cerita yang bernilai tinggi namun dengan harga jual yang tetap terjangkau, serta memastikan pemasaran produk tetap berjalan. Disaat yang sama, Masyarakat Adat juga mendorong penguatan Sekolah Adat sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik yang mengintegrasikan rehabilitasi wilayah adat sebagai media belajar langsung dan menyalurkan pengetahuan leluhur mengenai model kaliwu, fungsi kayu adat, perlindungan wilayah adat melalui praktik lapangan.
Setelah KUMA Bodo Maroto terbentuk, Masyarakat Adat kemudian melakukan penguatan pengorganisasian kelembagaan dan pemasaran produk serta peningkatan kapasitas produksi seperti pelatihan tenun, desain, menjahit, dan pengolahan limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Dampaknya, 26 Perempuan mengalami peningkatan produksi tenun hingga dua kali lipat, 12 perempuan memiliki keterampilan baru dalam membuat produk turunan, dan adanya sumber pendapatan tambahan dari hasil penjualan aksesoris, penyewaan kain, dan produk olahan. Keterlibatan 8 laki-laki dalam mendukung usaha juga menjadi perubahan penting. Dalam tiga bulan, KUMA menghasilkan keuntungan Rp2.800.000 yang kemudian dikembangkan menjadi simpan pinjam, didukung fasilitas produksi dan promosi digital yang meningkatkan pesanan serta kunjungan wisata. Secara keseluruhan, KUMA memberi manfaat langsung bagi 68 orang dan tidak langsung bagi sekitar 600 orang, sekaligus memperkuat pelestarian budaya melalui integrasi tenun dalam pendidikan adat dan pengembangan produk berbasis nilai budaya lokal.
Disisi lain dalam penguatan Sekolah Adat, Masyarakat Adat berhasil mengembangkan Sekolah Adat menjadi pusat pembelajaran berbasis tradisi yang memiliki profil dan kurikulum. Yang didukung oleh 1 kepala sekolah, 4 fasilitator, dan 8 guru yang aktif berbagi pengetahuan. Selain itu, Masyarakat Adat juga berhasil melakukan rehabilitasi wilayah adat dengan mengembangkan kebun bibit kampung (kaliwu) dalam rumah pembibitan, dan 27 jenis tanaman yang telah ditanam di wilayah adat. Sekolah adat juga memperkuat kolaborasi antara orang tua dan generasi muda dalam menjaga lingkungan, serta mengembangkan program literasi dan pembelajaran berbasis media digital yang didukung oleh perangkat HP untuk promosi dan proses belajar. Secara keseluruhan, Sekolah Adat Bodo Maroto memberikan manfaat langsung kepada 87 orang, mencakup anak-anak dan orang muda, serta berkontribusi pada pelestarian budaya, penguatan pengetahuan lokal, dan keberlanjutan wilayah adat.