TOTAL DANA 2023 - 2027

$750,000

Re-Granting - General Support - Institutional Support

TOTAL DANA AGUSTUS 2023 - JULI 2024

$250,000

Institutional Support

TOTAL DANA OKTOBER 2024 - SEPTEMBER 2029

$5,000,000

General Support

TOTAL DUKUNGAN DANA $800,000

Agustus 2023 - September 2024 ( $300,000 )
Februari 2025 - Juli 2026 ( $500,000 )

Pendanaan Langsung ( Re-Granting )

TOTAL DUKUNGAN DANA 2023 - 2027

$1,050,000

Re-Granting - General Support

TOTAL DANA 2024 - 2026

$2,500,000

Re-Granting - Endowment
Program

Penguatan Wilayah Adat Se’Seng melalui Rehabilitasi Wilayah Adat dan Penanaman Pangan Lokal

Organisasi Penanggung Jawab
AMAN
Lokasi
Sulawesi Selatan
Pendanaan Langsung
100,000,000
Periode
Mulai
09/06/2025
Berakhir
31/08/2025
Target
Status
Selesai

Bagikan ke :

Facebook
WhatsApp
X

MASYARAKAT ADAT SE’SENG TORAJA  MELESTARIKAN KEMBALI POHON DAN PANGAN LOKAL

Sudah berpuluh tahun Masyarakat Adat Se’seng Tana Toraja menghadapi perubahan drastis yang berdampak pada kawasan dan sumber daya yang mereka miliki. Pada tahun 1970-an, program penanaman pinus telah menghabiskan banyak jenis pohon-pohon lokal di kawasan Hutan Adat Se’seng. Demikian juga program pemerintah terkait penanaman padi dan beras sebagai bahan pangan utama di semua daerah di Indonesia memberikan dampak signifikan terhadap tanaman pangan lokal Masyarakat Adat Se’seng. Pada masa modern dengan hadirnya makanan-makanan instan semakin mendorong hilangnya sumber pangan lokal seperti umbi-umbian samonggo, bitte ‘dua’, dan battae. Kehilangan pohon dan tanaman pangan lokal dalam Masyarakat Adat sama halnya hilangnya identitas kolektif. Menurut perspektif Masyarakat Adat, identitas mereka tidak hanya dibangun oleh individu-individu, tetapi juga berkaitan dengan wilayah, tradisi, tanaman dan sumber-sumber agraria dalam kawasan adat, serta makanan. Dari semua masalah tersebut, lokasi wilayah adat Se’seng yang berada di dataran tinggi juga memiliki ancaman bencana alam seperti longsor dan erosi.

Demi upaya mengembalikan pohon dan pangan lokal, Masyarakat Adat Se’seng melibatkan Sekolah Adat Bai Pokki’ Se’seng untuk mengidentifikasi pohon dan tanaman lokal yang pernah ada di wilayah adat mereka. Metode yang dilakukan ialah mewawancarai tetua-tetua adat. Mereka menanyakan pohon dan tanaman pangan lokal, khasiat dan kegunaan, serta ciri-cirinya. Setelah memperoleh informasi yang diperlukan, mereka lalu membuat daftar pohon dan tanaman yang masih bisa diupayakan untuk dicari di dekat atau di dalam wilayah adat Se’seng. Guna mendukung inisiatif rehabilitasi dan pelestarian tanaman lokal, Masyarakat Adat Se’seng yang terlibat dibekali dengan pengetahuan serta keterampilan terkait penanaman dan pemeliharan pohon lokal, pembuatan pupuk organik, pembibitan, dan budidaya ikan. Pada pelaksanaannya, Masyarakat Adat Se’seng telah menanam 1.000 bibit pohon buangin dan 600 bibit pohon uru pada lahan seluas 3 hektare. Untuk tanaman pangan, mereka melestarikan kembali tanaman pangan lokal yang telah lama dilupakan Masyarakat Adat Se’seng. Tanaman itu berjenis umbi-umbian bernama bomban. Selain bomban, tanaman pangan lain yang ditanam antara lain jagung, kacang tanah, semonggo (keladi), dan singkong. Mereka juga membudidayakan bibit ikan lokal bale karappe.

Inisiatif awal in tidak hanya berguna bagi rehabilitasi lahan kritis maupun mengembalikan tanaman pangan lokal. Namun upaya tersebut juga meningkatkan kesadaran Masyarakat Adat Se’seng terkait pentingnya membangun kedaulatan pangan lokal. Walaupun memang kesulitan menyesuaikan waktu penanaman yang menunggu musim penghujan dan memastikan seluruh anggota masyarakat adat dapat terlibat di tengah padatnya aktivitas di kampung. Terkait dua jenis bibit pohon yang ditanam, pohon uru dan buangin, tidak hanya berarti sebagai penyediaan bahan bangunan. Bagi Masyarakat Adat Se’seng pohon uru dan buangin mengandung nilai spiritualitas yang berhubungan dengan leluhur serta alam. Pelibatan Sekolah Adat Bai Pokki’ Se’seng juga memastikan proses transfer ilmu antar generasi dalam Masyarakat Adat. Secara program, inisiatif penanaman ini berimplikasi langsung terhadap pemulihan wilayah adat Se’seng seluas 3.787 hektare dan 5.466 jiwa yang menghuni kawasan tersebut. Lebih jauh, inisiatif ini juga berupaya membangun ekonomi kolektif. Perekonomian yang dibangun oleh Masyarakat Adat Se’seng berbeda dengan ekonomi kapital yang berfokus pada akumulasi modal dan keuntungan. Melainkan pada upaya pemenuhan kebutuhan kolektif Masyarakat Adat, termasuk pangan dan simbol-simbol lain yang berperan mengikat identitas kolektif mereka, yang dilaksanakan bersama-sama serta berkelanjutan.

Scroll to Top