
Program
Membangun Pusat Pendidikan, Perekonomian dan Kebudayaan Rakyat untuk Mewujudkan Kemandirian Organisasi dan Memperkuat Gerakan Reforma Agraria di Sulawesi Selatan
Organisasi Penanggung Jawab
Lokasi
Pendanaan Langsung
Periode
Mulai
Berakhir
Target
Status
Bagikan ke :
Baruga Tani, ARAS, dan Usaha Kolektif Perempuan: Simpul Harapan Perserikatan Petani Sulawesi Selatan (PPSS)
Perserikatan Petani Sulawesi Selatan (PPSS) merajut penguatan organisasi tani lintas wilayah—Luwu Timur, Pinrang, Sinjai, dan Gowa—melalui rangkaian kerja yang saling menguatkan: pembangunan Baruga Tani sebagai ruang belajar dan konsolidasi, pendidikan kader Akademi Reforma Agraria Sejati (ARAS), pelatihan pertanian selaras alam, serta perintisan usaha kolektif perempuan. Rangkaian ini dirancang sebagai simpul-simpul penggerak: satu kerja mendorong kerja lain, menghidupkan roda organisasi sekaligus memperkuat daya tahan petani di tengah konflik agraria dan tekanan ekonomi.
Di Luwu Timur dan Pinrang, konflik agraria telah berlangsung puluhan tahun. Di Desa Kasintuwu dan Teromu, Luwu Timur, terbitnya HGU perusahaan pada 1987 menggusur kebun kakao warga, membongkar rumah dan fasilitas ibadah, serta menyisakan trauma akibat tindakan represif. Hingga kini, perusahaan masih menguasai lahan melalui perpanjangan HGU. Sementara di Desa Watang Kassa, Pinrang, klaim kawasan hutan atas 687 hektar tanah garapan turun-temurun menjerat 183 KK; kriminalisasi terhadap 18 petani pada 1987–2015 meninggalkan ketakutan, meski kebutuhan hidup memaksa warga kembali mengelola tanah.
Dalam situasi ini, konsolidasi menjadi kebutuhan mendesak. KPA Sulawesi Selatan bersama PPSS mendorong advokasi melalui Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA), namun ketiadaan ruang permanen membuat pertemuan kerap berpindah-pindah. Pembangunan Baruga Tani menjadi jawaban awal. Di Teromu, anggota PPSS menyediakan lahan 30 × 20 meter dan membangun Baruga Tani dua lantai berarsitektur Bugis–Makassar (8 × 12 meter) di jantung wilayah konflik. Dengan gotong royong, material dari kebun anggota, dukungan air bersih dan panel surya, baruga ini telah mencapai sekitar 70% pembangunan dan ditargetkan rampung Juni 2025. Di Watang Kassa, Baruga Tani berdiri di Dusun Padang Loang, melibatkan 28 orang dalam pembangunannya, dengan rangka bangunan telah terpasang. Baruga-baruga ini diharapkan menjadi “sekolah rakyat”: ruang membaca ulang sejarah perampasan tanah, mempelajari hak agraria, dan menumbuhkan kesadaran kritis petani.
Penguatan organisasi dilanjutkan melalui pendidikan kader muda. Awal Mei 2025, ARAS digelar di Baruga Tani Sawerigading, Mantadulu, Luwu Timur, untuk menjawab persoalan regenerasi. Sebanyak 15 peserta—mayoritas perempuan—dari empat desa mengikuti pendidikan yang disusun KPA Sulsel sesuai konteks lapangan. Melalui metode partisipatif, diskusi, dan simulasi, peserta memperdalam pemahaman tentang reforma agraria sejati, kedaulatan atas tanah, air, dan benih, serta peran organisasi tani dalam transformasi sosial pedesaan. Hasilnya bukan hanya peningkatan pengetahuan, tetapi juga keberanian bersuara dan terbentuknya jejaring kader muda lintas desa sebagai penghubung gerak PPSS ke depan.
Di Sinjai, perubahan didorong pada ranah praktik produksi. Pelatihan pertanian selaras alam pada 15–16 Mei 2025 di Baruga Tani Samboangia, Desa Bonto Salama, merespons ketergantungan petani pada input kimia mahal dan berisiko. Tiga puluh peserta mempelajari nutrisi tanaman dan meracik pupuk NPK Ca berbahan lokal—dari rebung hingga cangkang telur. Empat lahan percontohan kemudian dibentuk: sawah padi, hortikultura pemuda, pekarangan perempuan, dan lahan kolektif PPSS. Lahan-lahan ini menjadi laboratorium hidup untuk menguji, menimbang, dan menyebarkan praktik pertanian yang lebih lestari.
Sementara itu di Gowa, penguatan ekonomi dan pendanaan alternatif organisasi tumbuh dari dapur perempuan. Di Batulapisi Dalam, Malino, sekelompok perempuan tani muda membentuk usaha kuliner kolektif pada Februari 2025, memanfaatkan momentum wisata “Beautiful Malino”. Dengan dua produk andalan—pisang goreng nugget dan kentang goreng—mereka mengisi celah pasar lokal. Perempuan berada di pusat pengambilan keputusan, dari perencanaan hingga strategi penjualan, menandai pergeseran peran dari hanya terbatas di ruang domestik meluas ke poros agenda organisasi.
Keseluruhan rangkaian ini menunjukkan satu hal: penguatan organisasi tani tidak berdiri pada satu kerja tunggal. Baruga Tani menyediakan ruang, ARAS menyiapkan kader, pertanian selaras alam mengubah praktik, dan usaha kolektif perempuan menopang ekonomi serta kemandirian organisasi. Satu simpul menggerakkan simpul lain—menenun harapan reforma agraria dan kedaulatan petani di Sulawesi Selatan.




